Showing posts with label #EssayWritingContest. Show all posts

Kenapa Memilih Kuliah di Meteorologi ITB? (Part 2)


Hal-Hal yang akan dipelajari di Meteorologi ITB


Buat adik-adik yang masih bingung kenapa harus kuliah dan tetap stay di Meteorologi ITB, dan sebelumnya belum membaca artikel yang gue buat disini. Sebelumnya gue ingin tekankan, bahwa artikel ini bukan untuk promosi atau endorse jurusan ini, karena gue juga rugi dong ga dibayar sama sekali haha. Untuk traffic juga ngga sih, soalnya peminatnya juga dikit 😜😛😛 Tapi ini lebih ke testimoni sebagai alumni yang alhamdulillah cukup bersyukur pernah mengenyam pendidikan di jurusan dan kampus ini.

Kali ini gue akan cerita tentang Semester 5 dan Semester 6 yang -alhamdulillah- masih menjadi semester favorit gue karena too much drama baik dalam kehidupan pribadi, hingga di jurusan ini. Semester 5 dan 6 ibarat kata Klimaks dari suatu film drama, bertema Kuliah di Meteorologi ITB haha. Baiklah ini dia ......

Meteorologist Expectation
Meteorologist in a nutshell - Illustration

Semester 5 di Meteorologi ITB


FYI, sejak semester 4, gue terbiasa ngambil 24 SKS, dengan harapan lulus 3.5 tahun atau minimal 4 tahun (padahal ga jamin juga dan kebukti lulus 4.5 tahun), serta sayang aja gitu, 20 SKS dirasa kurang greget (ga niat sombong) dan dirasa sangat Gabut. Oke, di semester ini, gue sudah menentukan jalan apa yang akan gue ambil ke depan. Dari 3 Kelompok keahlian yang ada baik itu Sains Atmosfer, Meteorologi Lingkungan, dan Meteorologi Engineering atau terapan, gue menentukan kalo gue akan ambil 2 KK sekaligus, yaitu Sains Atmosfer dan Meteorologi Lingkungan. Kenapa?

Gue sangat suka mempelajari Meteorologi Dinamik (yang isinya turunan-turunan numerik dan rumus-rumus beserta cacing-cacing dan difrensiasi fenomena Meteorologi) yang berguna untuk menjelaskan Fisis Meteorologi numerically. Gue sangat menikmati otak gue diputar-putar untuk menurunkan dan membuktikan rumus-rumus itu, dengan bantuan google, bekal Fisika Matematika (Fismat), dan logic gue.
Baiklah, menjadi peramal/prediksi cuaca sepertinya sangat menarik. Dibekali pengetahuan bahwa challenge meramal cuaca di Indonesia itu luar biasa besar. Kenapa? Yah liat aja secara letak geografis gimana. Diapit 2 benua dan 2 Samudera is not a things loh! Itu artinya, lo harus siap buat meramal kompleksnya cuaca di Indonesia yang theoretically punya 2 sistem monsun, ditambah anomali-anomali gelombang secara zonal dan meridional ....... "Kak itu apa?" akan dengan senang hati ku jawab "Tenang dek, nanti bakal belajar kok 😕"
Tertarik untuk mempelajari Meteorologi Skala Meso nanti, setelah mengenal Prediksi Cuaca secara Numerik secara mendalam nanti. Apakah itu? Meteorologi yang mempelajari fenomena cuaca dalam skala Meso atau 20 - 2000 km lebih tepatnya.
Ingin mempelajari bahasa pemrograman dan tools lain dalam analisis cuaca dan Iklim
Menghindari ilmu elektronika yang sudah tidak disukai dan merasa tidak klik dengan ilmu itu sejak SMP. Iya, bahkan membuat rangkaian paralel dulu, gue tuh dibuatin sama bokap sangkin ga suka sama urusan begitu waktu SMP. Haha
Last but not least, kenapa Meteorologi Lingkungan? Sebagai KK sampingan, jikalau tugas akhir yang diambil akan dirasa sulit. Karena kabarnya, KK ini memiliki tingkat kesulitan TA yang paling mudah dan manusiawi, serta tidak terlalu memutar waktu*
 *Ups padahal ngga juga, TA Meteorologi Lingkungan dan Engineering, theoretically merupakan lanjutan Sains Atmosfer, demi menjelaskan masalah teknis dan lingkungan yang ada

Paket Minor (Kelompok Keahlian) Meteorologi ITB

Nah, karena sudah ditentukan, akhirnya gue ambil ini:
1. Energi Angin dan Matahari
2. Kebijakan Iklim
3. Agrometeorologi
4. Rekayasa Lingkungan
5. Analisis Data Cuaca dan Iklim 1
6. Sistem Informasi Meteorologi
7. Meteorologi Dinamik II
8. Metode Prediksi Cuaca Numerik I


Baiklah, Mata kuliah  berwarna merah adalah mata kuliah pilihan, gue memilih ini karena pure gue suka dan ingin mempelajari lebih lanjut. Yups, Energi Angin dan Matahari kan part dari renewable energy atau energi baru dan terbarukan tuh. Salah satu aset penting dalam penyediaan energi berkelanjutan dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh Energi berbahan bakar fosil dan batu bara. Maka dari itu Energi Angin dan Matahari sebagai salah satu sasaran mata kuliah pertama pilihan gue.

Kunjungan Lapangan Mahasiswa Meteorologi ITB 2012
(Beberapa) Meteorologi ITB 2012 di Lentera Angin Nusantara, Ciheras

Kebijakan Iklim lain lagi, karena gue udah ngambil mata kuliah Perubahan Iklim semester lalu, yasudah gue ambil ini buat memahami bagaimana ide-ide brilliant di-implementasikan sebagai suatu kebijakan dalam lingkup lokal, regional, nasional, dan Internasional. Iya, mata kuliah ini ga pernah sepi peminat btw, dibatasi maksimal 200 orang saja. Isi kuliahnya juga ga itu-itu aja, kita diminta melakukan kampanye, atau mengundang pembicara kelas kakap yang sudah ahli dibidangnya, melihat kondisi lapangan terkait pengaruh perubahan iklim, dan masih banyak lagi. Love and enjoy it!

Nah, adapun rekayasa lingkungan, gue ambil karena disaranin kakak kelas sih buat at least dicoba ambil, karena pelajarannya terkait AMDAL dan IPAL yang mungkin bisa jadi bekal gue untuk belajar terkait HSE juga haha.

Baiklah, bagaimana dengan mata kuliah wajibnya ka? Oke, terkait Analisis Data Cuaca dan Iklim I, lo bakal belajar pengolahan data cuaca dan iklim dengan menggunakan tools yang ada, mostly excel dan matlab. Karena baru pertama kali pakai matlab saat itu, kita benar-benar diajari dari awal banget step by step dan hal-hal apa aja yang bisa dilakuin oleh matlab. Yups, setelah dikasih arahan, tugas yang dikasih juga agak disusahin, tapi jujur itu malah jadi challenge buat gue. Yups, basically Andat I so nthaps so anedh!

Nah untuk sistem informasi meteorologi (Simet) dan Metdin II, gue sendiri ga terlalu minat mendalami itu. Padahal harusnya menarik sih, cuman kadang faktor metode mengajar sangat mempengaruhi sist, so se-mainstream itu biasanya angkatan ga pada suka juga hahaha. Tapi teteup, belajar menjadi suatu tuntutan, basically, harus bisa belajar sendiri baik via google ataupun bertanya dengan kakak tingkat.

Last but not least, Metode Prediksi Cuaca Numerik I, salah satu favorit w karena apa-apa yang gue pelajari di Metdin, Metfis, dan Fismat, diaplikasikan lewat matkul ini. Tapi pake bahasa pemrograman Fortran. Karena ini baru awal banget, produk prediksi biasanya ngga berupa prediksi cuaca (curah hujan berapa mm, kecepatan angin berapa, dsb). Tapi lebih ke pendekatan apa aja sih yang dipake dalam prediksi cuaca. Contoh: Bagaimana output streamline jika digunakan pendekatan hidrostatik dan non-hidrostatik, finite difference dan spectral, barotropik dan baroklinik. "Kak itu apa?" lagi-lagi w akan jawab "Tenang, nanti kalian akan belajar kok. Nikmatin!"

Semester 6 di Meteorologi ITB


Mulai dari semester ini, please keep in mind, buang jauh-jauh rasa ego kalian terhadap diri sendiri, karena mulai dari sini, semua tugas kalian akan dikerjakan secara berkelompok. Bisa jadi dalam 1 kelas dibagi ke beberapa kelompok, atau mengerjakan tugas besar dalam 1 kelas besar (nilai agak sosialis, semua sama rata, kecuali kalian jujur siapa saja yang tidak ikut ambil peran dalam pengerjaan tugas!). Trust me, daripada sakit hati, it's ok for not writing your member's name, while you had done your best to approach them. 

Yaps, as far as I remember, yang gue pelajari saat di Semester 6 adalah: sabar, manajemen waktu, manajemen tim, desain powerpoint, presentasi, acceptance atau penerimaan. Iyah, yang lain adalah bonus hahahahhaha 😭😭😭

FYI, mata kuliah utama di semester 6 tuh ini:
1. Fismat IIB (Bagi yang rencana ngambil sains atmosfer)
2. Metode Prediksi Cuaca Numerik II (Model II)
3. Analisa Data Cuaca dan Iklim II (Andat II)
4. Meteorologi Satelit (Metsat)
5. Hidrometeorologi (Hidromet)
6. Manajemen Informasi Cuaca dan Iklim

Biru: Disertai praktikum

Yah, walaupun hanya 3 praktikum, tapi semester ini cukup hell jika lo dapat tim yang gabisa diandalkan a.k.a. Ilang-ilangan. Belum lagi fismat IIB yang isinya ambigu, MICI yang strict dengan peraturan kelasnya, ataupun Hidromet yang harusnya menarik, namun sayang tidak bisa dimengerti haha.

OK. Dalam keseharian belajar, sebenarnya ga akan terlalu berbeda dari semester-semester kemarin. Cuman yah, karena tugasnya harus kelompok, masing-masing anggota harus punya peran masing-masing. Kalau di Model II, masing-masing orang harus memegang parameter utama meteorologi (Temperatur, Tekanan, Angin, Kelembaban, dan Curah Hujan sebagai output utama yang diinginkan). Kita diminta mencari suatu fenomena ekstrim (di luar hujan es) baik itu berupa angin kencang ataupun hujan lebat yang menyebabkan banjir. Disini kita diminta pakai "What if" methods. Gimana kalau sebelum kejadian ekstrim itu, kita memprediksi cuaca. "Output apa yang akan didapat? Metode apa yang terbaik? Kenapa?" Yah, at least 3 pertanyaan ini harus dijawab sebagaimana mestinya.

Di Model II kita benar-benar mengaplikasikan segala ilmu baik dari fisis, dinamis, statistik, untuk menjawab hipotesis prediksinya baik atau tidak. Kerjaan gue saat ini, sebagai Customer Analyst, bisa direfer ke Business Analyst, most likely mirip banget sama matkul ini. Dalam pengelolaan data, jika ada suatu temuan, harus ditemukan jawabannya "Kenapa?". Menuju kesana bukanlah hal yang gampang, perlu beberapa kajian secara empiris jika diperlukan. 

Di Model II juga, setiap orang emang harus punya peran masing-masing, gue sendiri pake strategi "You guys, just need to do Data Preparation dan Interface", sisanya gue yang ngerjain baik dalam hal jalan cerita, analisis, tebakan fisis, sedangkan untuk pengkajian metode berdasarkan paper, gue serahkan ke beberapa orang buat bantu cari paper pendukung. Di 2 praktikum pertama gue nangis-nangis karena semua plan gue hancur, nelfon bokap 2 hari sekali buat curhat, tidur hanya 3 - 4 jam sehari, makan sempat ga teratur. Disini gue belajar bahwa "Things can go wrong, and no need to regret anything, what I need to do is evaluate, keep moving forward, fixed the fucked-up ones". Ada hal juga yang harus lo perhatikan, kalo setiap orang ga punya semangat yang sama kayak lo, ada yang semangat, ada yang ingin membantu, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali.

Don't focus yourself with the fucked-up ones, it's going to take all of your energy. Just focus with what you got instead. Iyah, tim yang mau dan mencoba untuk peduli
Voila, di 4 praktikum selanjutnya, gue udah berhasil nangkep ritmenya, dan setiap minggunya, hasil kelompok kami makin baik hohohoho

Nah, di Andat II, di awal kalian sudah langsung diasumsikan mengerti detail matlab, which is, langsung pengaplikasian metode analisis ke real data yang udah ada! Nah, hal yang begini nih yang jadinya lumayan gereget haha. Mostly gue habiskan waktu untuk oprek fungsi-fungsi matlab dan scripting. Bagi gue yang udah mendedikasikan diri buat belajar lebih mah ga masalah, cuman kalo kalian ga suka dan merasa ga passion, jadinya ga bagus ih. Beban andat terasa lebih berat lagi karena harus membuat laporan + presentasi + scripting yang semuanya purely belajar dari google. Intinya? Jangan hilang harapan dan harus terbuka untuk selalu belajar.

Kalo gue pribadi yang memang mau fokus ke sains atmosfer, fokus ke 2 mata kuliah ini aja cukup, tapi, karena gue orangnya ngerasa ga begitu jenius dan siap untuk belajar apapun, semua harus diterima dengan lapang dada. Setiap materi akan gue coba catat, ngerti ga ngerti belakangan, karena pasti bakal dipelajari lagi menjelang ujian :") Hidrometeorologi apalagi, ini matkul aplikatif maksimal, dalam tatanan pembangunan infrastruktur, dalam dunia teknik sipil, pertambangan, perminyakan, mata kuliah ini bisa jadi alternatif lain untuk meyakinkan lo punya skill yang tepat. Kenapa? Karena biasanya di dunia itu, pasti diperlukan kajian secara hidrologi, hidrogeologi, dan hidrometeorologi. Diriku pribadi tertantang untuk mempelajari itu, tapi sayang ga bisa fokus ke semuanya. Ini tuh engineering banget hehe. Yasudah gue lakuin yg terbaik aja.

Last but not least, MICI bisa menjadi tempat pelarian dari penatnya tugas-tugas yang lain. Walaupun suasana kelas cukup mencekam karena pembawaan dosen yang serius, namun disini pikiran lo ga terlalu terbebani. Basically, gue menemukan tempat ini sebagai temporary escape dari tugas-tugas lainnya. Pelajarannya manajemen banget, tapi manajemen informasi cuaca dan iklim. Gimana menyederhanakan hasil pengelolaan data yang sebegitu rumitnya, bisa dikemas serapih dan sesimple mungkin, supaya masyarakat bisa memahami informasi tersebut. Simple kan? No not really, ada beberapa pendekatan yang perlu dilakukan, silahkan belajar ini nanti hohohoho.

Gimana? Udah merasa tercerahkan ga mau belajar apa disini? Atau malah terkesan menakutkan? Santai, ini ga semenakutkan itu, bahkan bisa jadi pembelajaran maksimal dan bakal kepake di dunia kerja kok. Gue se-grateful itu pernah masuk Meteorologi ITB, karena sangat membantu gue adaptasi di dunia kerja yg gue geluti saat ini. Iya, sebagai Customer/Business/Data Analyst. Satu pesan gue, mulai tentuin diri lo mau kemana. Lo harus percaya, kalo lo disini pasti ada alasannya, you're here for a reason. Apa itu? Dunno, just tried to find it yourself ya!

Pengumuman Mapres ITB 2015 - Finalis
Pengumuman Mapres ITB 2015 - Hanya sebagai perwakilan FITB hehe

Good luck dek! Do not hesitate to comment below, gue setiap hari cek blog gue kok, jadi in shaa Allah bakal gue jawab :)

Bonus: These people, somehow, helped me passed this extremely hard semester :") Thanks gengs drama!

Geng ghibah di ITB, drama as fuck
Geng Drama ITB

Do Indonesia Colleges Prepare Students For Successful Career?



By : Muhammad Rafi Al-Hariri Nasution, Indonesia, ITB
            Indonesia is the biggest Archipelago country with more than 13.700 island across equator. Having 5 its biggest islands such as Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, and Papua. Indonesia has population more than 252 millions people within six differences religious, thousands culture and linguistik. One of the first steps taken in terms of education following the foundation of the Republic of Indonesia in December 1949 was the introduction of Bahasa Indonesia (literally: language of Indonesia) as the language of education. A 6-year period of compulsory education was introduced in 1950, and the Pancasila state philosophy was introduced as the foundation of education. (EP-Nuffic, 2011).
            Colleges or university, at least on Indonesia, is one of stepladder education after Senior High School that nowadyas been being made as term before taking a professional Job. As a student of Meteorology Department on Bandung Institute of Technology, one of top three university on Indonesia, I will take ITB as a scope. Because, we need to specify our discuss, and we can not generalize the education system all over the world. And I believe, ITB could describe the education system in Indonesia itself. On this essay, there are several question need to be answered. First, How is education system in Indonesia? Second, Do Indonesia colleges prepare students for successful Career? This essay will consider a number of explanations about the Activity of ITB students year by year. My argument would be that Indonesia has not had a good system education that could impact the readiness of their student on the professional Career.
            Indonesia, with its own system on Higher Education, can be described as follows:
1.    Time Limitation on Higher Education studies
            Almost every colleges in Indonesia has term to their students about study time. For example, every ITB students on batch 1985 has to graduate before 1993 (Within maximal study time about 7.5 years). Different with the students on Batch 2006 till now, we have limitation about 6 years study. Moreover, there are several colleges and university that has 5 years study for their own students.
            Formerly, Indonesia’s colleges have no rules about this. There were students with 10 years time study or even more. But it is okay. His attendance just increased the statistic of students in university, not more. But then, by the time our society awareness increased, they know that it is important to take the higher education, The demands of it increased. And then government and the institutions created this time limitation system. If the students don’t graduate in time, that means they have to be dropped out.  Do we need this time limitation? Well, I do not think it is a good idea. Because it has several impact such as :
            First, this time limitation, made students think that “the faster you graduated, the smarter you are.” Or vice versa. Where as, colleges is the best place for you to explore yourself, to start new things and the important thing, this is the best place for you to Fail. Fail for organizing a club, fail for Exam, fail for concepting, fail for helping each others, and etc. Because it is okay for you to fail right here, with expectation that you will not fail in the future. Because in the ‘Real world’ you can not fail ! When you fail, it is over !. So, this system is not really good to develop the students personality itself.
            Second, when this system is running, students would not have much free time to be an active student. They will face two kind of condition. First, they should think about the assignments, practical reports, class projects, and suddently the exam time is come. Second, they should think that they should graduate as fast as they can. And FYI, these kind of reason have changed Indonesian students for not taking a part-time job. Because, they do not really have time.  Beside of that, Indonesian students not really interested on oganizational experiences. They put the academic as their first priority. Although it looks like Their own choice, but that is not the point.  Because, as a student you should be able to manage your time, right? Once again, this system is not really good.
            Third, the same time when this system is running, it makes the ‘inflation’ of Scholars. Sometimes it looks good, but by the ‘title’, sometimes people would think that they should be someone which is equivalent with their ‘title’. Where as, High education not prepared a ‘specialized’ person, but it just form your mindset to solve the problem (I Made Junnaedi, 2013).
2.    Too much tasks to do, Students can not be developed ?
            I could describe the activities of ITB Students based on my experiences. On the first year, you will learn about the fundamental of Physics, Chemistry, Calculus, and several fundamental subject. As a first grade student, you could register as Student Affairs Unit that has its own specialized such as Cultural, art, modern, and so on. It is kind of extra-cullicular activites. As a new member, you have no idea what you are gonna do. You are being educated with their own ways, and appointed as their new members. Nothing special.
            The second grade, you will be busy by Profession and Leadership Orientation by Student Board (based on your major). It takes about 3-4 month (almost 1 full semester). And then you will be appointed as a member of your Association. The third grade, you will be busy by giving your juniors about the profession and Leadership orientation (which is taking 1 full semester of your activities). Beside that, you will be one of management board to rule your association. The fourth grade, you will be busy by doing your Thesis.
            None of these are wrong. But, the question is, when would you taking project or attending competition? Why are these important? Because, by attending competition (group or individual competition), you could build your competitive and coorperative culture. Taking lecturers project would give you great expriences and step by step would build your professional culture itself. Of course company would see these kind of person, both having good grades, organizational experiences, and achievements.
            Indonesia does has potential, especially Human resources potential. We know that Indonesia always bring the medals for International Olymiads such as iGeo, iPhO, IMO, and etc. These achievements show that Indonesia student, by proper teaching, could be developed to be not only a good Employees, but also a good professionals in many sectors. After knowing about the higher education system, I believe, we only have two options, first, we just stay here and follow the system which means we just make the same guys over and over again. Or we can change the system and become not only a part, but also a role model to change it. It just a matter of choice.

Reference
EP-Nuffic.2011.Education System Indonesia : 2nd edition, version 3. 17/05/15.