Kenapa memilih kuliah di Meteorologi ITB? (Part-1)
"Raf raf, kenapa dulu pilih jurusan Meteorologi? Kan kebumian ada banyak jurusan. Any specific reasons?"
![]() |
| What I really do as Meteorologist (Source: http://charleyfite-eportfolio.weebly.com) |
Well, pertama-tama, sebelum gue menjawab pertanyaan ini, gue mau ngucapin "Congrats!" teruntuk adik-adik FITB 2016 yang telah menjuruskan, dijuruskan, atau terjuruskan di Meteorologi ITB. Gue tahu, beberapa diantara kalian tidak sudi untuk menginjakkan kaki di jurusan ini, karena sangat tidak terkenal dan terdapat steorotype kalo anak-anak Meteorologi susah dapat kerja haha. Tapi menurut gue sih ga benar, karena semua bergantung pada pribadi masing-masing.
Baiklah, pertama-tama, gue jelasin dulu yah, kalo dulu gue ngambil jurusan ini lewat jalur perminatan. Iya, lewat jalur undangan. Sejak SMA gue udah investasi waktu bermain gue untuk keperluan belajar (biar dapat ranking and stuff), cuman untuk ngejar masuk ITB, as simple as that.
Lantas, kenapa Meteorologi? Ada apa? Yups, mungkin ada dark story yang ga perlu gue ceritakan ke kalian. Tapi dari gue sendiri udah mendapatkan benang merah kenapa nasib gue dulunya disini. Yups, sedari kecil, gue paling suka yang namanya film bencana, film apapun itu baik Gunung Berapi, Tsunami, hingga bencana iklim, let me say, The Day After Tomorrow (2004) karya Roland Emmerich merupakan film yang paling gue suka. Ntahlah, sejak kecil aku tertarik dengan udara dan kemisteriusannya, kenapa ada angin, kenapa ada hujan, kenapa ada badai, kenapa ada musim hujan, kenapa ada musim kemarau, kenapa ada Tornado di Amerika tapi jarang sekali di Indonesia, "Kenapa?". Semua udah gue pikirkan sejak kecil, dan baru banget gue ngerti waktu kuliah, physically secara fisis tentunya.
![]() |
| The Day After Tomorrow Movie Poster |
Balada galau masih gue pegang beberapa bulan setelah masuk Mete. Ada beberapa alasan sih:
Abang asrama, yang gue anggap sebagai mentor gue di ITB dengan segala achievements nya, masuk ke ranah Teknik Industri, belum lagi Bunda (kakak kandung nyokap gue), itu lulusan Teknik Industri juga. Terlihat sangat cemerlang sih TI ini. "Bisakah pindah jurusan di ITB?" terbesit di pikiran gue. Kabarnya bisa! You rather having so much low GPA or ..... having more than 3.5. Dalam tahun itu, gue udah set goal gue, IPK harus diatas 3.5 di semester 4. period.
Ada mata kuliah di awal yang isinya apasih banget. Theoretically, mata kuliah itu kelihatan sangat penting. Namun dari dosennya sendiri yang ngga gue ngerti :") Ntahlah, semangat gaes ntar haha. Gue kasih tahu ya, nama mata kuliahnya Mekanika Medium Kontinu, gue dapat A, tapi gue ga paham gue belajar apa selama 1 semester itu. Soon, kalian bakal ngerasain itu
Semester 3 dan 4 di Meteorologi ITB
Baiklah, hari-hari pun di mulai, waktu itu gue cuman ambil 20 SKS mengingat masih ada osjur dan sebagainya. Jujur gue nyesal ga ambil 24 haha, karena santai banget njir semester ini. Kurang lebih kalian akan belajar ini
Semester 3
- Pengenalan Meteorologi dan Klimatologi
- Komputasi Meteorologi (Komet)
- Statistika Dasar
- Fisika Matematika IB
- Mekanika Medium Kontinu (Beware!)
- Pendidikan Agama / KWN
- Statistika
Semester 4
- Perubahan Iklim (Periklim)
- Pengantar Interaksi Atmosfer - Laut (PIAL)
- Observasi Meteorologi
- Meteorologi Fisis (Beware!)
- Meteorologi Dinamik I (Metdin I)
- Metode Numerik Meteorologi (one step closer to Pemodelan Meteorologi)
- Pancasila dan Kewarganegaraan
Perlu dicatat, mata kuliah yang gue tebalin itu favorit gue. Iya bener, itu hampir semua matkul haha, kecuali matkul beware yang sampe sekarang gue ga ngerti gue belajar apa di dalamnya (selain mendekatkan gue dengan angkatan gue).
Baiklah, gue ga bakal mungkin jelasin ini matkul secara detail ngapain aja si, karena itu bukan maksud dari tulisan gue. Perlu dicatat, target IPK gue udah tercapai waktu di semester 4, seriusan ini gue bukan mau sombong, tapi ternyata, setelah berproses, gue mengurungkan niat gue untuk tetap ngelanjutin studi gue disini. Di semester 3 dan 4, gue termasuk sangat semangat dan penuh pikiran positif untuk mencoba menerima apa sih mete ini. Dan bener, gue dapat feelnya! Gue somehow belajar pemrograman yang di SMP dan SMA gue bahkan ga pernah gue sentuh. Di SMP gue cuman pake Office, di SMA gue cuman belajar corel draw HHHHHH. Sampailah gue pada posisi mencintai belajar Algoritma pemecahan masalah, dimana otak gue dituntut berfikir secara detail dan tersistem, untuk memecahkan suatu masalah.
Beberapa moment yang gue sangat senangi, ketika gue memprogram suatu data, tau-tau gue bisa munculin gambar spasial Indonesia, lengkap dengan kondisi temporalnya. "Is this sorcery! OMG this is so cool! One step closer to be Meteorologist haha"
.
.
.
Nay, it's not that simple haha.
Ada juga momen gue belajar pengenalan Meteorologi, dimana gue menjadi salah satu mahasiswa aktif yang duduk manis di depan, mengamati, mencoba untuk berfikir secara fisis, dan bertanya jika tidak tahu, menjawab jika diberi kesempatan. Yups, gue ga terlalu perduli apa kata temen-temen gue waktu itu, mungkin terkesan caper atau muka dua, tapi nggak, gue disitu cuman untuk belajar.
Fisika Matematika (Fismat), Statistika, dan Matriks dan vektor (Mavek), menjadi matkul tambahan yang begitu asik untuk dinikmati. Entah mengapa, pikiranku jauh lebih kritis ketika mempelajari ini, belum lagi, menjadikan dunia pemodelan jauh lebih gampang (karena mostly, yang kita gunakan adalah sistem matriks dan vektor), dimana statistika adalah metodenya, ataupun Fismat guna melengkapi analisis fisisnya. Iya, dek, dipelajari dan tetap berbaik sangka untuk semua yang lo pelajari.
Sampailah di Semester 4 yah, gue belajar Periklim dan PIAL, yang materinya mirip-mirip sama Pengenalan Meteorologi, tapi jauh lebih dalam fisisnya. Disini gue juga menemukan salah satu concern gue. Yups, Perubahan Iklim, salah satu yang membuat gue bikin beberapa Project, mendaftarkan diri sebagai Youth Ambassador di suatu organisasi Internasional, dan menjadi pembicara di beberapa negara. Iya, gue jadi lebih mengerti makna film kecil gue The Day After Tomorrow, dan pesan apa yang ingin mereka bawa. It's worth my time to learn that!
Hmmmmm, disini ku juga belajar Metdin yang gue sendiri masih jatuh cinta terhadapnya. Disini, apapun yang gue pelajari tentang mete, dijelaskan secara gamblang dengan rumus-rumus Fisika dibaliknya. If possible, lo bisa mengaplikasikannya ke dalam bentuk numerik juga! Penurunan-penurunan rumus di Fismat, sangat kepake disini. Dan lagi-lagi, gue sangat jatuh cinta dengan itu. Se-menarik dan se-bahagia itu loh, ketika lo bisa ngebuktiin rumus angin geostropik dengan turunan, asumsi, ataupun metode penurunan apa yang lo pake. Disini lagi-lagi otak gue diasah untuk menjadi lebih peka, dalam hal hitungan dan angka, secara sistematis :")
Intinya gini dek, silahkan dicoba dulu! Gue sendiri orang yang sejak kecil selalu didik, "Pantang pulang sebelum berperang!" Iya, rasain dulu, nikmati, barulah buat keputusan lanjut atau tidak. Don't be that person, who just give up without even tried. Huft bgt. Dan sampai detik ini, aku masih belum menyesali segala keputusan yang aku ambil.
Oh iya, last but not least, Thanks for Antari dan beberapa circle yang gue masukin, telah menyemangati dan selalu mengingatkan gue untuk bersyukur.
P.S. Everyone has their own experiences, if you have any questions, just comment below or contact me on Line: rafitanjonggg
P.S. Everyone has their own experiences, if you have any questions, just comment below or contact me on Line: rafitanjonggg
![]() |
| Antari - Meteorologi ITB 2012 |



