Showing posts with label Meteorology. Show all posts

Kemarau Basah di Indonesia, Apa Penyebabnya?


Menduga penyebab Kemarau Basah


- Bukan La-Nina dan Indian Ocean Dipole (IOD)

- Disebabkan Madden-Julian Oscillation  (MJO)

- Step by step dugaan fisis cuaca


Belakangan ini, gue ngerasain perubahan cuaca di Jakarta yang agak basah. Yaps, baru-baru ini, hujan kerap terjadi di Jakarta. Padahal, berdasarkan yang gue pelajari, secara teoritis harusnya sekarang musim kemarau. Hujan mungkin terjadi, namun tidak akan sesering dan selebat ini. Sebagai lulusan Meteorologi, sudah menjadi naluri gue untuk menduga-duga apa yang terjadi di Atmosfer. Paling tidak, ada 3 kemungkinan yang dapat menjadikan wilayah Indonesia mengalami Kemarau Basah.

1. La-Nina
2. IOD Negative
3. Madden-Julian Oscillation (MJO) 
Gue urutkan dari kemungkinan secara global dulu, yakni La-Nina dan IOD Negative. Keduanya berperan sangat besar dalam mempengaruhi pola cuaca global, khususnya Indonesia.

Pola Curah Hujan di Indonesia


Baiklah, pertama-tama gue akan menjelaskan secara ringkas terkait Pola Curah Hujan di Indonesia. Konsep pertama yang harus kalian pegang, sebenarnya di Indonesia itu tidak mengenal musim. Kalau mau melihat musim secara lengkap, bisa merujuk ke daerah lintang atas. Daerah disana memiliki 4 musim utama, dari musim panas (summer), gugur (fall), dingin (winter), dan semi (spring) yang bergantung pada posisi matahari terhadap bumi. Nah di Indonesia gimana? Jatuhnya musim panas sepanjang tahun. Nah tapi, karena curah hujannya berubah-rubah secara musiman, mangkanya musim di Indonesia lebih dikenal dengan musim Hujan atau Kemarau. It should be clear right here.

Nah dalam dunia Meteorologi, kami mengenal istilah ini dengan Pola Curah Hujan. Di Indonesia sendiri, terdapat 3 pola curah hujan yang mempengaruhi masing-masing wilayah. Berdasarkan (Bayong, 1999) pola curah hujan tersebut adalah sebagai berikut.

Region A: Tipe Monsun
Region B: Tipe Ekuatorial
Region C: Tipe Lokal
Source: (Kadarsah, 2006)

Nah jika didefinisikan lebih lanjut,

Pola curah hujan Monsun adalah wilayah yang memiliki perbedaan jelas antara periode musim hujan dan kemaraunya. Sehingga sifatnya Unimodial (1 puncak musim Hujan di DJF, dan 1 puncak musim Kemarau di JJA) 
Pola curah hujan Ekuatorial adalah wilayah yang memiliki 2 puncak musim hujan setiap tahunnya dan curah hujannya cukup tinggi hampir sepanjang tahun. Jika dilihat secara time-series, akan terlihat seperti bimodial (dua puncak curah hujan). Nah, sesuai namanya, wilayah yang memiliki curah hujan Ekuatorial berada disekitar ekuator. Untuk fisis lebih lengkapnya silahkan merujuk pada paper-paper terkait
Last but not least, Pola curah hujan Lokal yang distribusi hujannya berkebalikan dengan wilayah monsun. Hal ini dipengaruhi oleh faktor geografis wilayah seperti pegunungan ataupun cekungan. Daerah-daerah pegunungan seperti bukit barisan biasanya memiliki pola curah hujan yang seperti ini. Fisisnya gimana? Wah harus dijelaskan di tulisan yang berbeda :p
Berdasarkan gambar diatas, wilayah Jakarta harusnya masuk ke zona A. Artinya, di bulan JJA, wilayah ini mengalami puncak musim kemarau, kan? Yaps, kalo ga percaya silahkan plot time-seriesnya biar kelihatan sinyal unimodial-nya. Atau lebih gampang lagi, coba olah data curah hujannya pake Fast Fourier Transform, biar kelihatan sinyalnya dalam domain waktu. Pasti sinyal untuk periode 12 bulan-an paling tinggi sist.

Baiklah skip :") Nah, otomatis, harusnya Hujan jarang terjadi dong? Atau paling ngga, ga sampai se-badai kemarin itu deh. Tidak! Sebaliknya, dalam beberapa waktu kemarin, hujan kerap terjadi, badai, dan berlangsung hampir setiap harinya selama seminggu-an deh. Kenapa?

Nah, gue melakukan riset sederhana,

Pertama, coba kalian cek sini. Disini kalian bisa cek indeks El-Nino secara mingguan. Coba tinjau yang bagian Nino 3.4, disitu proporsinya untuk minggu lalu hanya sekitaran 0.0 - 0.6. Nah ini masih dalam kategori normal, bahkan karena nilainya positif, ini mengindikasi ke El-Nino (which is bakal bikin kering Indonesia). Oke, mari kita bantah teori 1!

Indeks NINO 3.4 (Source: National Oceanic and Atmospheric Administration)
Kedua, gue coba cek deh Indian Ocean Dipole. Gue ga akan ngejelasin fisis IOD ini disini. Karena bakal panjang. Keep in mind, IOD negatif bikin Indonesia tambah basah, sedangkan IOD positif bikin Indonesia tambah keren. Eh, unfortunately, coba cek disini. Kalo dilihat, nilai IOD masih bergerak sekitar 0 (which is normal) dan cenderung ke positif. Lah, harusnya Indonesia sedikit kering dong? Ups, nyatanya tidak! Oke, mari kita bantah teori 2 !
Source: BOM Australia

Nah, terakhir, bagaimana dengan Madden Julian Oscillation (MJO) ? Masih dari situs yang sama Bureau of Meteorology (BOM) Australia, ternyata dari tanggal 20 - 28 Juli, Osilasi MJO sedang bergerak diatas pulau Martitim Indonesia. MJO adalah osilasi gelombang panas yang ketika lewat akan membawa uap air yang cukup banyak ke wilayah yang dilewatinya. Hal ini memungkinkan terjadinya Kondensasi dan pembentukan awan hujan di daerah tersebut.
Latest update of MJO Index
Nah, parahnya, kondisi sekitar gue sangat mendukung analisis gue loh! Karena MJO ini gelombang panas yah, waktu kemarin itu, asli Jakarta menyengat banget! Panasnya gila-gilaan dan ga kaya biasanya. Endingnya terus ketebak deh, sore atau malamnya bakal hujan gitu. Kadang Lebat banget, kadang hujan sedang. Dan terjadi dalam beberapa hari secara berturut-turut.
"Bang ini bakal kejadian sampe kapan?"
Kalau dilihat dari indeksnya, MJO nya udah melemah tuh di wilayah Pasifik. So, calm down gaes! MJO nya udahan kok. Sisa deh kemaraunya lagi :") Saran gue, sesuaikan aja pakaian, karena musim kemarau gini cuacanya panas kering gitu haha. 


Kupas Jembatan Layang Non-Tol (JLNT) Casablanca dari Keilmuan Meteorologi


Mengupas Jembatan Layang Non-Tol (JLNT) Casablanca dari sisi Meteorologi


- Tentang keselamatan pengendara Motor
- Tentang penambahan kecepatan angin dan turbulensi 2 bangunan tinggi 


Halo teman-teman,

Belakangan ini sempat viral loh banyak motor yang melawan arus untuk nge-hindari tilang-menilang yang dilanggar oleh pemotor itu sendiri. Bahkan beberapa media Internasional seperti Coconuts sempat meliput gimana lucunya pemandangan tersebut. Bak semut yang melawan arus, para pengendara motor ini melawan arah untuk menghindari Razia! [1]

Aku pun sempat mencari tahu, alasan mengapa pengendara motor dilarang. Dari beberapa sumber, pemerintah meng-khawatirkan ketinggian jembatan itu dapat membahayakan Pengendara motor, belum lagi kecenderungan pengendara yang selfie diatas jembatan itu [2], ada juga yang mengatakan bahwa Angin diatas jembatan itu tergolong kencang dan dapat membahayakan pengendara motor, dan memang sejak awal dirancang khusus untuk pengendara Mobil [2]. Nah, karena udah bersinggungan dengan Angin, naluri Meteorologist ku pun mulai bangun.

"Apa benar sebegitu kencang?"
"Emangnya wind-shear nya sebegitu mencolok?"
"Potensinya seberapa kencang sih? Emang bahaya banget yah? Apa pemerintah yang lebay?"
Nah, kebetulan hari ini gue dan teman-teman gue reuni kecil-kecilan di Kota Kasablanca (Kokas). Ada Judith yang jadi Jurnalis Kompas, Mike yang jadi Java Developer, Oji yang jadi Business Analyst, Gue yang jadi Customer Analyst, ada Fandy dan Kartika sebagai Fresh Graduate (currently looking for Jobs), dan Ferdy yang masih semangat lanjut S2 (currently applied scholarship to German). Okeh, aku ga akan nge-bahas reunian kami. Nah jadi waktu pulang dan naik gojek, gue sempat liat ini jembatan, sampailah ku tanya ke Kang Gojek

"Pak, belakangan ini motor gaboleh lewat Jembatan ini yah?" Tanya gue yang kudet
"Oh, bukan mas, ini mah sejak awal memang ga dibolehin juga motor lewat mah. Paling yang lewat itu kalo bukan desakan penumpang, yah orang yang buru-buru. Kalau saya diminta juga ga mau lewat situ" Jawab si bapak
"Loh, kenapa pak?" Tanya gue lagi.
"Serem den, jembatannya memang tinggi banget, apalagi anginnya kencang. Jembatan itu memang ga cocok buat pengendara motor. Udah ada 3 atau 4 kecelakaan loh den kalo gasalah, beberapa sampe memakan korban Jiwa" Imbuh si bapak
"Wah seriusan pak? Hmmmmm, baiklah"
Kemudian Hening.

Nah, lagi-lagi aku mulai berfikir. Untuk wilayah perkotaan, harusnya wind-shear tidak terlalu besar, Belum lagi gaya gesek permukaan yang tinggi, angin di perkotaan itu lemah, mangkanya jarang dikaji untuk Energi Angin. Aku pun mulai mencari benang merah, berbekal pengetahuanku, aku lihat wilayah sekitar Jalan Kasablanca dan Dr. Satrio ini. Diawal memang ga aneh rasanya, tapi aku baru sadar, di daerah Jalan Dr Satrio sebelum dan sesudah terowongan Casablanca, banyak gedung-gedung tinggi yang cukup rapat. Hipotesisku, adanya gedung-gedung ini bisa meningkatkan kecepatan angin.

Sepengalamanku, dan coba deh kalian perhatiin dan rasakan, pernah ga waktu kalian main-main ke Apartemen atau gedung yang ada ruangan terbuka, namun diapit 2 gedung. Kalian pasti ngerasain kalo angin di sekitar ruang terbuka itu cukup kencang. Ini persis waktu aku ngerasain jalan di sekitar apartemen bunda w "Casablanca East Resident" di Jakarta Timur, itu anginnya cukup kencang dan feeling-ku, kecepatan rata-ratanya diatas 4 lah dan cukup konstan (Need more research tho). Bahkan dari sini w sempat berfikir gimana kalo di tiap Apartemen begini, dipasangi turbin angin, kayaknya energi yang dihasilkan cukup banyak deh (#Random).

Ilustrasi ruang terbuka diapit 2 gedung
Baiklah, skip. Kembali ke topik awal, gedung-gedung ini bisa jadi faktor kenapa angin lebih kencang.

Bermodal Google, akupun mencari materi terkait "Wind between two Buildings Faster" atau kalo dibahasa Indonesiakan "Angin diantara 2 gedung lebih cepat". Percayalah, untuk materi Meteorologi, akan lebih kredibel dan banyak hasil pencahariannya kalo pake Bahasa Inggris, jadi harus terbiasa juga. Nah, aku nemu materi menarik nih.

Dari [3], massa udara saat melewati 2 bangunan menjadi dikompres/ditekan secara paksa sehingga kecepatan angin-nya bertambah menjadi beberapa kali lipat dibandingkan kecepatan angin yang sebenarnya. Belum lagi karena perbedaan kecepatan ini, kemungkinan turbulensi terjadi setelah angin melewati gedung pun lebih tinggi, yang tentunya bisa membuat golakan di sekitar daerah dan pastinya dapat membahayakan keseimbangan pengendara motor.

Ilustrasi Angin diantara 2 Gedung [3]
Masih berdasarkan [4], kecepatan angin akan kembali normal jika jarak gedung dengan angin sekitar 4 - 7 kali lebar jarak kedua gedung. Let's say jarak antar gedung 20 meter, jarak jembatan sebaiknya minimal 80 meter dari kedua gedung tersebut loh! Nah, dengan kepadatan kota Jakarta yang seperti ini, akan mustahil untuk membangun JLNT mengikuti konsep ini. Belum lagi, JLNT ini telah dibangun, sebaiknya pengendara Motor hendaklah mematuhi aturan, karena ini menyangkut keselamatan anda dan keluarga! Ingat loh keluarga anda menunggu di rumah!

Skala Beaufort (m/s) [4]
Nah, ada beberapa hal yang perlu kalian pertimbangkan. Anggap kecepatan angin sebenarnya tuh 5 m/s (yang harusnya sepoy-sepoy), setelah melewati gedung-gedung itu, kecepatannya jadi 10 m/s (jauh lebih kencang). Sekarang kita tambah dikit deh jadi 6 m/s, maka kecepatan angin yang kalian peroleh itu bisa jadi 12 m/s loh (kalau dalam skala Beaufort [4], itu masuk kategori angin kencang guys]. Lantas, gimana kalo ada Badai yang bawa angin 10 m/s. Itu sama aja kalian bakal dihempas angin 20 m/s dari samping (yang udah masuk kategori Gale atau angin yang sangat kencang dan secara tiba-tiba). Turbulen-nya pasti luar biasa kuat karena kalian juga mengendarai motor dari arah yang berbeda (kurang lebih 90 derajat) dari arah datangnya angin. Belum lagi dengan kecepatan yang berbeda pula, semakin kencang kalian berkendara, semakin tinggi turbulensi/golakan akan terjadi. Nah, Turbulensi ini akan membuat kalian sangat sulit menyeimbangkan motor loh! Itu matematika sederhananya.

Ilustrasi Skala Beaufort dengan Gambar [5]
Nah, jadi gimana? Masih mau mempertaruhkan nyawa demi memotong jalan 10 - 15 Menit? You were paid for work not for death, Be Safe!

Sumber:


Kenapa Memilih Kuliah di Meteorologi ITB? (Part 2)


Hal-Hal yang akan dipelajari di Meteorologi ITB


Buat adik-adik yang masih bingung kenapa harus kuliah dan tetap stay di Meteorologi ITB, dan sebelumnya belum membaca artikel yang gue buat disini. Sebelumnya gue ingin tekankan, bahwa artikel ini bukan untuk promosi atau endorse jurusan ini, karena gue juga rugi dong ga dibayar sama sekali haha. Untuk traffic juga ngga sih, soalnya peminatnya juga dikit 😜😛😛 Tapi ini lebih ke testimoni sebagai alumni yang alhamdulillah cukup bersyukur pernah mengenyam pendidikan di jurusan dan kampus ini.

Kali ini gue akan cerita tentang Semester 5 dan Semester 6 yang -alhamdulillah- masih menjadi semester favorit gue karena too much drama baik dalam kehidupan pribadi, hingga di jurusan ini. Semester 5 dan 6 ibarat kata Klimaks dari suatu film drama, bertema Kuliah di Meteorologi ITB haha. Baiklah ini dia ......

Meteorologist Expectation
Meteorologist in a nutshell - Illustration

Semester 5 di Meteorologi ITB


FYI, sejak semester 4, gue terbiasa ngambil 24 SKS, dengan harapan lulus 3.5 tahun atau minimal 4 tahun (padahal ga jamin juga dan kebukti lulus 4.5 tahun), serta sayang aja gitu, 20 SKS dirasa kurang greget (ga niat sombong) dan dirasa sangat Gabut. Oke, di semester ini, gue sudah menentukan jalan apa yang akan gue ambil ke depan. Dari 3 Kelompok keahlian yang ada baik itu Sains Atmosfer, Meteorologi Lingkungan, dan Meteorologi Engineering atau terapan, gue menentukan kalo gue akan ambil 2 KK sekaligus, yaitu Sains Atmosfer dan Meteorologi Lingkungan. Kenapa?

Gue sangat suka mempelajari Meteorologi Dinamik (yang isinya turunan-turunan numerik dan rumus-rumus beserta cacing-cacing dan difrensiasi fenomena Meteorologi) yang berguna untuk menjelaskan Fisis Meteorologi numerically. Gue sangat menikmati otak gue diputar-putar untuk menurunkan dan membuktikan rumus-rumus itu, dengan bantuan google, bekal Fisika Matematika (Fismat), dan logic gue.
Baiklah, menjadi peramal/prediksi cuaca sepertinya sangat menarik. Dibekali pengetahuan bahwa challenge meramal cuaca di Indonesia itu luar biasa besar. Kenapa? Yah liat aja secara letak geografis gimana. Diapit 2 benua dan 2 Samudera is not a things loh! Itu artinya, lo harus siap buat meramal kompleksnya cuaca di Indonesia yang theoretically punya 2 sistem monsun, ditambah anomali-anomali gelombang secara zonal dan meridional ....... "Kak itu apa?" akan dengan senang hati ku jawab "Tenang dek, nanti bakal belajar kok 😕"
Tertarik untuk mempelajari Meteorologi Skala Meso nanti, setelah mengenal Prediksi Cuaca secara Numerik secara mendalam nanti. Apakah itu? Meteorologi yang mempelajari fenomena cuaca dalam skala Meso atau 20 - 2000 km lebih tepatnya.
Ingin mempelajari bahasa pemrograman dan tools lain dalam analisis cuaca dan Iklim
Menghindari ilmu elektronika yang sudah tidak disukai dan merasa tidak klik dengan ilmu itu sejak SMP. Iya, bahkan membuat rangkaian paralel dulu, gue tuh dibuatin sama bokap sangkin ga suka sama urusan begitu waktu SMP. Haha
Last but not least, kenapa Meteorologi Lingkungan? Sebagai KK sampingan, jikalau tugas akhir yang diambil akan dirasa sulit. Karena kabarnya, KK ini memiliki tingkat kesulitan TA yang paling mudah dan manusiawi, serta tidak terlalu memutar waktu*
 *Ups padahal ngga juga, TA Meteorologi Lingkungan dan Engineering, theoretically merupakan lanjutan Sains Atmosfer, demi menjelaskan masalah teknis dan lingkungan yang ada

Paket Minor (Kelompok Keahlian) Meteorologi ITB

Nah, karena sudah ditentukan, akhirnya gue ambil ini:
1. Energi Angin dan Matahari
2. Kebijakan Iklim
3. Agrometeorologi
4. Rekayasa Lingkungan
5. Analisis Data Cuaca dan Iklim 1
6. Sistem Informasi Meteorologi
7. Meteorologi Dinamik II
8. Metode Prediksi Cuaca Numerik I


Baiklah, Mata kuliah  berwarna merah adalah mata kuliah pilihan, gue memilih ini karena pure gue suka dan ingin mempelajari lebih lanjut. Yups, Energi Angin dan Matahari kan part dari renewable energy atau energi baru dan terbarukan tuh. Salah satu aset penting dalam penyediaan energi berkelanjutan dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh Energi berbahan bakar fosil dan batu bara. Maka dari itu Energi Angin dan Matahari sebagai salah satu sasaran mata kuliah pertama pilihan gue.

Kunjungan Lapangan Mahasiswa Meteorologi ITB 2012
(Beberapa) Meteorologi ITB 2012 di Lentera Angin Nusantara, Ciheras

Kebijakan Iklim lain lagi, karena gue udah ngambil mata kuliah Perubahan Iklim semester lalu, yasudah gue ambil ini buat memahami bagaimana ide-ide brilliant di-implementasikan sebagai suatu kebijakan dalam lingkup lokal, regional, nasional, dan Internasional. Iya, mata kuliah ini ga pernah sepi peminat btw, dibatasi maksimal 200 orang saja. Isi kuliahnya juga ga itu-itu aja, kita diminta melakukan kampanye, atau mengundang pembicara kelas kakap yang sudah ahli dibidangnya, melihat kondisi lapangan terkait pengaruh perubahan iklim, dan masih banyak lagi. Love and enjoy it!

Nah, adapun rekayasa lingkungan, gue ambil karena disaranin kakak kelas sih buat at least dicoba ambil, karena pelajarannya terkait AMDAL dan IPAL yang mungkin bisa jadi bekal gue untuk belajar terkait HSE juga haha.

Baiklah, bagaimana dengan mata kuliah wajibnya ka? Oke, terkait Analisis Data Cuaca dan Iklim I, lo bakal belajar pengolahan data cuaca dan iklim dengan menggunakan tools yang ada, mostly excel dan matlab. Karena baru pertama kali pakai matlab saat itu, kita benar-benar diajari dari awal banget step by step dan hal-hal apa aja yang bisa dilakuin oleh matlab. Yups, setelah dikasih arahan, tugas yang dikasih juga agak disusahin, tapi jujur itu malah jadi challenge buat gue. Yups, basically Andat I so nthaps so anedh!

Nah untuk sistem informasi meteorologi (Simet) dan Metdin II, gue sendiri ga terlalu minat mendalami itu. Padahal harusnya menarik sih, cuman kadang faktor metode mengajar sangat mempengaruhi sist, so se-mainstream itu biasanya angkatan ga pada suka juga hahaha. Tapi teteup, belajar menjadi suatu tuntutan, basically, harus bisa belajar sendiri baik via google ataupun bertanya dengan kakak tingkat.

Last but not least, Metode Prediksi Cuaca Numerik I, salah satu favorit w karena apa-apa yang gue pelajari di Metdin, Metfis, dan Fismat, diaplikasikan lewat matkul ini. Tapi pake bahasa pemrograman Fortran. Karena ini baru awal banget, produk prediksi biasanya ngga berupa prediksi cuaca (curah hujan berapa mm, kecepatan angin berapa, dsb). Tapi lebih ke pendekatan apa aja sih yang dipake dalam prediksi cuaca. Contoh: Bagaimana output streamline jika digunakan pendekatan hidrostatik dan non-hidrostatik, finite difference dan spectral, barotropik dan baroklinik. "Kak itu apa?" lagi-lagi w akan jawab "Tenang, nanti kalian akan belajar kok. Nikmatin!"

Semester 6 di Meteorologi ITB


Mulai dari semester ini, please keep in mind, buang jauh-jauh rasa ego kalian terhadap diri sendiri, karena mulai dari sini, semua tugas kalian akan dikerjakan secara berkelompok. Bisa jadi dalam 1 kelas dibagi ke beberapa kelompok, atau mengerjakan tugas besar dalam 1 kelas besar (nilai agak sosialis, semua sama rata, kecuali kalian jujur siapa saja yang tidak ikut ambil peran dalam pengerjaan tugas!). Trust me, daripada sakit hati, it's ok for not writing your member's name, while you had done your best to approach them. 

Yaps, as far as I remember, yang gue pelajari saat di Semester 6 adalah: sabar, manajemen waktu, manajemen tim, desain powerpoint, presentasi, acceptance atau penerimaan. Iyah, yang lain adalah bonus hahahahhaha 😭😭😭

FYI, mata kuliah utama di semester 6 tuh ini:
1. Fismat IIB (Bagi yang rencana ngambil sains atmosfer)
2. Metode Prediksi Cuaca Numerik II (Model II)
3. Analisa Data Cuaca dan Iklim II (Andat II)
4. Meteorologi Satelit (Metsat)
5. Hidrometeorologi (Hidromet)
6. Manajemen Informasi Cuaca dan Iklim

Biru: Disertai praktikum

Yah, walaupun hanya 3 praktikum, tapi semester ini cukup hell jika lo dapat tim yang gabisa diandalkan a.k.a. Ilang-ilangan. Belum lagi fismat IIB yang isinya ambigu, MICI yang strict dengan peraturan kelasnya, ataupun Hidromet yang harusnya menarik, namun sayang tidak bisa dimengerti haha.

OK. Dalam keseharian belajar, sebenarnya ga akan terlalu berbeda dari semester-semester kemarin. Cuman yah, karena tugasnya harus kelompok, masing-masing anggota harus punya peran masing-masing. Kalau di Model II, masing-masing orang harus memegang parameter utama meteorologi (Temperatur, Tekanan, Angin, Kelembaban, dan Curah Hujan sebagai output utama yang diinginkan). Kita diminta mencari suatu fenomena ekstrim (di luar hujan es) baik itu berupa angin kencang ataupun hujan lebat yang menyebabkan banjir. Disini kita diminta pakai "What if" methods. Gimana kalau sebelum kejadian ekstrim itu, kita memprediksi cuaca. "Output apa yang akan didapat? Metode apa yang terbaik? Kenapa?" Yah, at least 3 pertanyaan ini harus dijawab sebagaimana mestinya.

Di Model II kita benar-benar mengaplikasikan segala ilmu baik dari fisis, dinamis, statistik, untuk menjawab hipotesis prediksinya baik atau tidak. Kerjaan gue saat ini, sebagai Customer Analyst, bisa direfer ke Business Analyst, most likely mirip banget sama matkul ini. Dalam pengelolaan data, jika ada suatu temuan, harus ditemukan jawabannya "Kenapa?". Menuju kesana bukanlah hal yang gampang, perlu beberapa kajian secara empiris jika diperlukan. 

Di Model II juga, setiap orang emang harus punya peran masing-masing, gue sendiri pake strategi "You guys, just need to do Data Preparation dan Interface", sisanya gue yang ngerjain baik dalam hal jalan cerita, analisis, tebakan fisis, sedangkan untuk pengkajian metode berdasarkan paper, gue serahkan ke beberapa orang buat bantu cari paper pendukung. Di 2 praktikum pertama gue nangis-nangis karena semua plan gue hancur, nelfon bokap 2 hari sekali buat curhat, tidur hanya 3 - 4 jam sehari, makan sempat ga teratur. Disini gue belajar bahwa "Things can go wrong, and no need to regret anything, what I need to do is evaluate, keep moving forward, fixed the fucked-up ones". Ada hal juga yang harus lo perhatikan, kalo setiap orang ga punya semangat yang sama kayak lo, ada yang semangat, ada yang ingin membantu, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali.

Don't focus yourself with the fucked-up ones, it's going to take all of your energy. Just focus with what you got instead. Iyah, tim yang mau dan mencoba untuk peduli
Voila, di 4 praktikum selanjutnya, gue udah berhasil nangkep ritmenya, dan setiap minggunya, hasil kelompok kami makin baik hohohoho

Nah, di Andat II, di awal kalian sudah langsung diasumsikan mengerti detail matlab, which is, langsung pengaplikasian metode analisis ke real data yang udah ada! Nah, hal yang begini nih yang jadinya lumayan gereget haha. Mostly gue habiskan waktu untuk oprek fungsi-fungsi matlab dan scripting. Bagi gue yang udah mendedikasikan diri buat belajar lebih mah ga masalah, cuman kalo kalian ga suka dan merasa ga passion, jadinya ga bagus ih. Beban andat terasa lebih berat lagi karena harus membuat laporan + presentasi + scripting yang semuanya purely belajar dari google. Intinya? Jangan hilang harapan dan harus terbuka untuk selalu belajar.

Kalo gue pribadi yang memang mau fokus ke sains atmosfer, fokus ke 2 mata kuliah ini aja cukup, tapi, karena gue orangnya ngerasa ga begitu jenius dan siap untuk belajar apapun, semua harus diterima dengan lapang dada. Setiap materi akan gue coba catat, ngerti ga ngerti belakangan, karena pasti bakal dipelajari lagi menjelang ujian :") Hidrometeorologi apalagi, ini matkul aplikatif maksimal, dalam tatanan pembangunan infrastruktur, dalam dunia teknik sipil, pertambangan, perminyakan, mata kuliah ini bisa jadi alternatif lain untuk meyakinkan lo punya skill yang tepat. Kenapa? Karena biasanya di dunia itu, pasti diperlukan kajian secara hidrologi, hidrogeologi, dan hidrometeorologi. Diriku pribadi tertantang untuk mempelajari itu, tapi sayang ga bisa fokus ke semuanya. Ini tuh engineering banget hehe. Yasudah gue lakuin yg terbaik aja.

Last but not least, MICI bisa menjadi tempat pelarian dari penatnya tugas-tugas yang lain. Walaupun suasana kelas cukup mencekam karena pembawaan dosen yang serius, namun disini pikiran lo ga terlalu terbebani. Basically, gue menemukan tempat ini sebagai temporary escape dari tugas-tugas lainnya. Pelajarannya manajemen banget, tapi manajemen informasi cuaca dan iklim. Gimana menyederhanakan hasil pengelolaan data yang sebegitu rumitnya, bisa dikemas serapih dan sesimple mungkin, supaya masyarakat bisa memahami informasi tersebut. Simple kan? No not really, ada beberapa pendekatan yang perlu dilakukan, silahkan belajar ini nanti hohohoho.

Gimana? Udah merasa tercerahkan ga mau belajar apa disini? Atau malah terkesan menakutkan? Santai, ini ga semenakutkan itu, bahkan bisa jadi pembelajaran maksimal dan bakal kepake di dunia kerja kok. Gue se-grateful itu pernah masuk Meteorologi ITB, karena sangat membantu gue adaptasi di dunia kerja yg gue geluti saat ini. Iya, sebagai Customer/Business/Data Analyst. Satu pesan gue, mulai tentuin diri lo mau kemana. Lo harus percaya, kalo lo disini pasti ada alasannya, you're here for a reason. Apa itu? Dunno, just tried to find it yourself ya!

Pengumuman Mapres ITB 2015 - Finalis
Pengumuman Mapres ITB 2015 - Hanya sebagai perwakilan FITB hehe

Good luck dek! Do not hesitate to comment below, gue setiap hari cek blog gue kok, jadi in shaa Allah bakal gue jawab :)

Bonus: These people, somehow, helped me passed this extremely hard semester :") Thanks gengs drama!

Geng ghibah di ITB, drama as fuck
Geng Drama ITB

Kenapa memilih kuliah di Meteorologi ITB? (Part-1)


"Raf raf, kenapa dulu pilih jurusan Meteorologi? Kan kebumian ada banyak jurusan. Any specific reasons?"
Yang saya lakukan sebagai Meteorologis
What I really do as Meteorologist (Source: http://charleyfite-eportfolio.weebly.com)

Yaps, pertanyaan ini sering dilontarkan oleh teman-teman atau adik-adik kelas saya terdahulu, baik itu di asrama, maupun di ITB itu sendiri. Lantas mengapa?

Well, pertama-tama, sebelum gue menjawab pertanyaan ini, gue mau ngucapin "Congrats!" teruntuk adik-adik FITB 2016 yang telah menjuruskan, dijuruskan, atau terjuruskan di Meteorologi ITB. Gue tahu, beberapa diantara kalian tidak sudi untuk menginjakkan kaki di jurusan ini, karena sangat tidak terkenal dan terdapat steorotype kalo anak-anak Meteorologi susah dapat kerja haha. Tapi menurut gue sih ga benar, karena semua bergantung pada pribadi masing-masing.

Baiklah, pertama-tama, gue jelasin dulu yah, kalo dulu gue ngambil jurusan ini lewat jalur perminatan. Iya, lewat jalur undangan. Sejak SMA gue udah investasi waktu bermain gue untuk keperluan belajar (biar dapat ranking and stuff), cuman untuk ngejar masuk ITB, as simple as that. 

Lantas, kenapa Meteorologi? Ada apa? Yups, mungkin ada dark story yang ga perlu gue ceritakan ke kalian. Tapi dari gue sendiri udah mendapatkan benang merah kenapa nasib gue dulunya disini. Yups, sedari kecil, gue paling suka yang namanya film bencana, film apapun itu baik Gunung Berapi, Tsunami, hingga bencana iklim, let me say, The Day After Tomorrow (2004) karya Roland Emmerich merupakan film yang paling gue suka. Ntahlah, sejak kecil aku tertarik dengan udara dan kemisteriusannya, kenapa ada angin, kenapa ada hujan, kenapa ada badai, kenapa ada musim hujan, kenapa ada musim kemarau, kenapa ada Tornado di Amerika tapi jarang sekali di Indonesia, "Kenapa?". Semua udah gue pikirkan sejak kecil, dan baru banget gue ngerti waktu  kuliah, physically secara fisis tentunya.

The Day After Tomorrow Movie Poster
Secara gamblang gue kasih tahu ke lo, gue perminatan, tapi dulu waktu TPB sempat tertarik juga kayaknya masuk Geologi, kabar-kabarnya sih dunia pertambangan atau perminyakan dapat membuat lo cepat mapan ...... Tapi benarkah? Faktanya, sejak tahun 2013, dunia tersebut sempat bobrok, tidak lagi menjadi hot topic, bahkan lulusannya pada banting setir. "Alhamdulillah, santai kali raf". 

Balada galau masih gue pegang beberapa bulan setelah masuk Mete. Ada beberapa alasan sih:
Abang asrama, yang gue anggap sebagai mentor gue di ITB dengan segala achievements nya, masuk ke ranah Teknik Industri, belum lagi Bunda (kakak kandung nyokap gue), itu lulusan Teknik Industri juga. Terlihat sangat cemerlang sih TI ini. "Bisakah pindah jurusan di ITB?" terbesit di pikiran gue. Kabarnya bisa! You rather having so much low GPA or ..... having more than 3.5. Dalam tahun itu, gue udah set goal gue, IPK harus diatas 3.5 di semester 4. period.
Ada mata kuliah di awal yang isinya apasih banget. Theoretically, mata kuliah itu kelihatan sangat penting. Namun dari dosennya sendiri yang ngga gue ngerti :") Ntahlah, semangat gaes ntar haha. Gue kasih tahu ya, nama mata kuliahnya Mekanika Medium Kontinu, gue dapat A, tapi gue ga paham gue belajar apa selama 1 semester itu. Soon, kalian bakal ngerasain itu

 Semester 3 dan 4 di Meteorologi ITB


Baiklah, hari-hari pun di mulai, waktu itu gue cuman ambil 20 SKS mengingat masih ada osjur dan sebagainya. Jujur gue nyesal ga ambil 24 haha, karena santai banget njir semester ini. Kurang lebih kalian akan belajar ini

Semester 3
  • Pengenalan Meteorologi dan Klimatologi 
  • Komputasi Meteorologi (Komet)
  • Statistika Dasar
  • Fisika Matematika IB
  • Mekanika Medium Kontinu (Beware!)
  • Pendidikan Agama / KWN
  • Statistika

Semester 4
  • Perubahan Iklim (Periklim)
  • Pengantar Interaksi Atmosfer - Laut (PIAL)
  • Observasi Meteorologi
  • Meteorologi Fisis (Beware!)
  • Meteorologi Dinamik I (Metdin I)
  • Metode Numerik Meteorologi (one step closer to Pemodelan Meteorologi)
  • Pancasila dan Kewarganegaraan

Perlu dicatat, mata kuliah yang gue tebalin itu favorit gue. Iya bener, itu hampir semua matkul haha, kecuali matkul beware yang sampe sekarang gue ga ngerti gue belajar apa di dalamnya (selain mendekatkan gue dengan angkatan gue).

Baiklah, gue ga bakal mungkin jelasin ini matkul secara detail ngapain aja si, karena itu bukan maksud dari tulisan gue. Perlu dicatat, target IPK gue udah tercapai waktu di semester 4, seriusan ini gue bukan mau sombong, tapi ternyata, setelah berproses, gue mengurungkan niat gue untuk tetap ngelanjutin studi gue disini. Di semester 3 dan 4, gue termasuk sangat semangat dan penuh pikiran positif untuk mencoba menerima apa sih mete ini. Dan bener, gue dapat feelnya! Gue somehow belajar pemrograman yang di SMP dan SMA gue bahkan ga pernah gue sentuh. Di SMP gue cuman pake Office, di SMA gue cuman belajar corel draw HHHHHH. Sampailah gue pada posisi mencintai belajar Algoritma pemecahan masalah, dimana otak gue dituntut berfikir secara detail dan tersistem, untuk memecahkan suatu masalah.

Beberapa moment yang gue sangat senangi, ketika gue memprogram suatu data, tau-tau gue bisa munculin gambar spasial Indonesia, lengkap dengan kondisi temporalnya. "Is this sorcery! OMG this is so cool! One step closer to be Meteorologist haha"
.
.
.
Nay, it's not that simple haha.

Ada juga momen gue belajar pengenalan Meteorologi, dimana gue menjadi salah satu mahasiswa aktif yang duduk manis di depan, mengamati, mencoba untuk berfikir secara fisis, dan bertanya jika tidak tahu, menjawab jika diberi kesempatan. Yups, gue ga terlalu perduli apa kata temen-temen gue waktu itu, mungkin terkesan caper atau muka dua, tapi nggak, gue disitu cuman untuk belajar.

Fisika Matematika (Fismat), Statistika, dan Matriks dan vektor (Mavek), menjadi matkul tambahan yang begitu asik untuk dinikmati. Entah mengapa, pikiranku jauh lebih kritis ketika mempelajari ini, belum lagi, menjadikan dunia pemodelan jauh lebih gampang (karena mostly, yang kita gunakan adalah sistem matriks dan vektor), dimana statistika adalah metodenya, ataupun Fismat guna melengkapi analisis fisisnya. Iya, dek, dipelajari dan tetap berbaik sangka untuk semua yang lo pelajari.

Sampailah di Semester 4 yah, gue belajar Periklim dan PIAL, yang materinya mirip-mirip sama Pengenalan Meteorologi, tapi jauh lebih dalam fisisnya. Disini gue juga menemukan salah satu concern gue. Yups, Perubahan Iklim, salah satu yang membuat gue bikin beberapa Project, mendaftarkan diri sebagai Youth Ambassador di suatu organisasi Internasional, dan menjadi pembicara di beberapa negara. Iya, gue jadi lebih mengerti makna film kecil gue The Day After Tomorrow, dan pesan apa yang ingin mereka bawa. It's worth my time to learn that!

Hmmmmm, disini ku juga belajar Metdin yang gue sendiri masih jatuh cinta terhadapnya. Disini, apapun yang gue pelajari tentang mete, dijelaskan secara gamblang dengan rumus-rumus Fisika dibaliknya. If possible, lo bisa mengaplikasikannya ke dalam bentuk numerik juga! Penurunan-penurunan rumus di Fismat, sangat kepake disini. Dan lagi-lagi, gue sangat jatuh cinta dengan itu. Se-menarik dan se-bahagia itu loh, ketika lo bisa ngebuktiin rumus angin geostropik dengan turunan, asumsi, ataupun metode penurunan apa yang lo pake. Disini lagi-lagi otak gue diasah untuk menjadi lebih peka, dalam hal hitungan dan angka, secara sistematis :")

Intinya gini dek, silahkan dicoba dulu! Gue sendiri orang yang sejak kecil selalu didik, "Pantang pulang sebelum berperang!" Iya, rasain dulu, nikmati, barulah buat keputusan lanjut atau tidak. Don't be that person, who just give up without even tried. Huft bgt. Dan sampai detik ini, aku masih belum menyesali segala keputusan yang aku ambil.

Oh iya, last but not least, Thanks for Antari dan beberapa circle yang gue masukin, telah menyemangati dan selalu mengingatkan gue untuk bersyukur.

P.S. Everyone has their own experiences, if you have any questions, just comment below or contact me on Line: rafitanjonggg

Angkatan Meteorologi ITB 2012
Antari - Meteorologi ITB 2012

Unexpected Journey of Meteorologist to Customer Analyst


A Journey of Meteorologist to be Data Management Apprentice on Customer Analytics Department


Hallo everyone !

I want to share my slight journey as Data Management Apprentice on elevenia.co.id, in which, currently I am being prepared to be Customer Analyst for sure. 


How come a Meteorologist became a Customer Analyst?


Well, I am not really sure why, but regarding my Interview with the user,  I can assure him several things, I do have programming minded, with intermediate understanding of statistic, and can deliver the insight of analysis to the people. FYI, in Meteorology, we were learning about statistic because we're scientist, right? We are talking about the Data, and digging these data and serving it to be some insightful analysis. As a student, I used to be assistant lecturer of Weather and Climate Data Analysis (WCDA) and Numerical Weather Prediction. We used Matlab and Fortran to calculating our data, and for the record, every week, we used to do presentation in front of students, lecturers, and laboratory assistants. This story can sum up my experiences regarding programming, statistic, and presentation skills. 

What makes it interesting, actually what I am doing as Data Management apprentice might be not really different with Meteorology subjects, except for the advanced tools and also the data itself. I am currently learning about SQL, a language to communicate with the database. Because all of our data is stored on Cloud, and you may consider as Big Data. Furthermore, I was learning about Web Recommender Logics, and how could they increase the conversion rate of a website, also I learnt how Amazon.com can be so success with this recommendation logic things. Last but not least, recently I was learning about Google Analytics, which is really powerful tools to getting the insight of who are your visitors are, how could they end up into your website, how they behavior is, how impactful our paid or unpaid campaigns, how many interactions the customers did to convert into transaction, and lots of things for sure. And you know what, thanks to google actually, we are eager to learn anything by ourselves. And because when I was on Meteorology student, which the subject itself sometimes lack of sources and books, I can manage and handle with that conditions. Googling might be the best tools to learn anything by myself.

Monthly Report of Elevenia
One of my task -just for learning- what kind of CA's going to do

Google Analytics in a Nutshell
One of our task as Apprentice to getting lots of insight by using Google Analytics


Actually we already had 5 tasks so far (always do presentation every week), but these might be confidential because I was using real data from the company. So I am definitely not sharing these reports haha.

Last, we were just having the meeting regarding the path of Customer Analytics department, because it's still new in Elevenia. And I am telling you that I am so excited to build my career in this path, because it's so challenging for me with the background -that in the middle of- Statistics and Programming, also, all of us will learn and growing this department together (Aamiin!)

So, for all of Meteorology students out there, especially from ITB. Just don't be afraid for what you're going to be. Because I believe, actually, you can be whatever you want to be, and somehow, you might relate all of this stuff to what you have learnt in Meteorology so far. My message for you guys, dedicate yourself, your time, and your mind, to learn anything from this program and your organization, because it's gonna help you to achieve more :) Thank you and see you on Top :)

If you have some questions, just comment it below hoho

(Edited) Data Management + Marketing Division Iftar

What Makes Bandung so Windy?


Hello !

Currently, I was wondering why Bandung is so windy, literally. Both in Daylight or Night. It seems like, the winds were quite intense as well.

First of all, I am not talking about "Wind" that was happening when storm came. Because Storm used to followed by strong wind both vertically (to enhance the storm development) or horizontally caused by Wind Burst (in the surface though).

Based on the definition of Windy /ˈwindē/
"marked by strong wind or by more wind than usual <a windyday> b : violent, stormy." (merriam-webster.com)
So, yeah, I am talking about "more wind" though. Even though it's so windy, there's not much rain happening though. Probably, all of the clouds was moved on the other side of Bandung. Anyway, back to the first question, what makes Bandung so windy?

Well, to answer this question, I need to explain about "Wind Mechanism"

Please keep in mind, that wind blows because there's a difference between pressure from one location to another. Wind blows from High to Low pressure area, never the other way round. In local scale, we used to know about "Seabreeze and Landbreeze". It's caused by the pressure difference of land and sea. Why? Let us say, Land has lower heat capacity than sea. It means, land is easier to get hot rather than sea. In atmosphere (which is not ideal gas), the more heat, the less pressure in it. Because atmosphere is not "closed system", when you heat it, it's gonna expand and make the atmosphere Less dense.

Which means, every day, whenever there's "Sun light" that's gonna warm the surface up. There would be pressure difference between Land and Sea. In daylight, it will cause "Seabreeze", where winds blow from sea to land. Vice versa in the night, we will have "Landbreeze", where winds blow from land to sea.

It can happen with Lake and Sea too ! (Source: wikipedia.com)



Alleged Mechanism Why Bandung is so Windy

Ah, that's the first thing !
Next, I am guessing, the answer for our question would be, there's Strong Seabreeze that's happening, right now ! 

First of all, let's see the position of Sun, right now.
You're right, It's summer in South Hemisphere !
Java Island is located in Southern Indonesia, right?

1) This condition would create condition, where Java's land would be so hot, but the sea won't be (Because the capacity of heat that I was explained in the first place). The difference would be huge, and would create strong Seabreeze.

Bandung Location in West Java (Google Maps)

If we saw carefully, meridionally (based on its latitude), Bandung is located in the middle of West Java, right? And we know, there would be Seabreeze both from North and South of it. Does it mean, the winds would met in Bandung? No! First, because there's coriolis effect. Second, the sea breeze from South would be stronger than from the North.



Depth of Sea in Indonesia (Source: BBC.co.uk)

What makes it stronger? Because, the Indian Ocean is deeper than Java sea. It means, Indian ocean has more heat capacity than Java island, which makes it harder to warm it. This will drive the Pressure difference more, and will make Seabreeze stronger. Even, one of my lecture said that Seabreeze from south Indian Ocean in Java Island, can across the Java island itself.

Last but not least, if you're watching "BBC: Earth Extraordinary Journey" (I literally recommend you to watch it). You may get the information, that Southern Hemisphere ocean is cooler than the Northern Hemisphere ocean in Summer! It's all because, there are more Land in northern rather than in southern.

This leads us, having more Stronger Sea Breeze because the local mechanism, right?


Conclusion

Our seabreeze probably ended up in Purwakarta or somewhere else (Idk), or even went to the Java sea as well. So does in the Night, when south Indian ocean would be warmer than Java Sea and Java island itself. Which makes stronger Landbreeze to Indian Ocean. Thanks to Summer (in Southern Hemisphere) and the mechanism of Heat Capacity, though :)

Ah, that's all about today ! Hope the hype stayed and the questions be answered yah guyzzz !

Anyway, If you have something to discuss, you can go to the comment section below! And just let me know, yah!

Yes, yes, I know, Bandung is so Cold !

El-Nino and Its Effects to Indonesia


El-Nino Meaning and Definition


Based on Wikipedia,
"El Niño is the warm phase of the El Niño Southern Oscillation (commonly called ENSO) and is associated with a band of warm ocean water that develops in the central and east-central equatorial Pacific (between approximately the International Date Line and 120°W), including off the Pacific coast of South America."
El-Nino is an anomaly that happens on Walker Circulation (One of global circulation that has role on Weather pattern on Earth).

So, It's easy to understand what driven this phenomenon. First, you can Imagine there are a "warm pool" across pacific, that could be shifted to eastern or western area. Because it's kind of a cycle, we can't say "Who's first ?" (kind of "Who's first? Egg or Chicken?"). But, you can say that Indonesia is the main Actor here.

El-Nino happens when the "warm pool" shifts eastward along the equator, toward pacific ocean. Normally, this "warm pool" near Indonesia and the Philippines. But during an El Niño, the Pacific's warmest surface waters sit offshore of northwestern South America. When this warm pool shifts to Nino 3,4, or 3.4 (it's kind of coordinates across pacific ocean), this is gonna affect the pressure on the areas. We know that this "warm pool" gonna make an Low-Pressure Areas, and will create its own circulation ! (Wind blows from High to Low Pressure, right?)

You can see this Picture to compare it yourself
Normal Condition vs El-Nino illustration
See? There are shifting on Convective Areas. And one of greatest effect for "Indonesia", is Indonesia could be Draught and Fire-forest could happen because of it.

Why did I use quotation mark on Indonesia?
So guys, you should understand that Indonesia is a Big Word.

Generally, you may say that "Indonesia" may be affected by El-Nino. But .... not really.
Indonesia, have 3 kind of climate-pattern based on Rainfall peaks.

1. Monsoon Pattern
The Areas with this pattern, usually have a great different between Wet and Dry season. It's clearly driven by Monsoon phenomenon, that happens because of ocean-continent temperature distribution. Eastern Monsoon would bring a lot of water from the Indian-ocean and pacific ocean, different with western Monsoon that's not really carrying moist water across Australian continent and indian-ocean.

2. Equatorial Pattern
The areas within this pattern, usually have 2 rainfall peaks because of the Sun position. We know that, Equator areas would be have 2 Equinox a year, that makes evaporation through Equatior should be maximized and for several areas, it affects them a lot.

3. Local Pattern
Basically, local pattern seems like Monsoon pattern but vice versa. It happens because the local geographic condition (usually happens on the areas near Mountain) because Orography effect.

Indonesia Rainfall Pattern according to BMKG
Generally, we can see Indonesia's pattern here. But, even if we Zoom into Bandung, West Java, we could see this pattern !

Bandung Rainfall mapping according to UNPAD
Believe it or not, the center one has Monsoon Pattern, where the yellow one has Equatorial Pattern, and the orange one has the local pattern because its mountain area. We still need a lot of Research to create climate Map on many Indonesia Areas. Because Indonesia, is really complicated one, and this makes us, Meteorologist, hard to predict the accurate Weather because the Scheme that's not really fit with Indonesia Geographic position.

Back to the Topic, El-Nino does affect "Indonesia", but you must Specify where the Area is, because not all of Indonesia areas be affected with it. Even if El-Nino happened, Bogor might still have some extreme storm though.

I think that's all guys. Hope this could give you a lot of information about El-Nino and La-Nina that's happening lately :)

Analisis Mekanisme Hujan Badai di Bandung (Studi Kasus: 13 November 2016)


Hipotesis Mekanisme Hujan Badai di Bandung


Kemarin siang hingga malam, Bandung terus dilanda hujan hingga banjir terjadi dimana-mana, bahkan Indonesia Tenggalam (Intel) di ITB, tenggelam beneran ......

Intel Tenggelam (Source: Shared photo by Azizah, 2016)

Stasiun KA (Source: Shared photo by Azizah, 2016)


Bagaimana tidak, hujan yang terjadi di siang hari merupakan hujan kategori lebat (> 20 mm / jam). Dan hujan ini terjadi selama 2 jam berturut-turut hingga jumlah CH sekitar 51 mm / 2 jam .....

Intensitas curah hujan terukur oleh Automatic Weather Station (AWS) di ITB 
(Source: Shared photo by Azizah, 2016)

Cuaca pada siang hari tersebut tak hanya diselingi oleh hujan lebat, namun juga disertai oleh Badai petir yang terus menyambar ..... Hal ini membuat penulis menganalisis, adanya awan Cumulonimbus (Cb) yang sedang terbentuk di atas .....

Ilustrasi penampakan awan Cb - Indah dan majestic af namun proses di dalamnya luar biasa barbaric
(Source: strangesounds.org)

Bagaimana awan Cb terbentuk?

Hal ini dikarenakan adanya proses adiabatik lembab (moist adiabatic process) yang terjadi di atmosfer ..... 

Pada umumnya, proses adiabatik memang terjadi di Atmosfer. Ketika parsel udara mengembang, hal ini mendorong lingkungan melakukan kerja untuk melakukan penyesuaian terhadap suatu sistem parsel tadi. Namun, dikarenakan konduktivitas termal udara sangat rendah dan luasnya daerah sistem yang terlibat, membuat hampir tidak adanya transfer panas antara sistem dan lingkungan. Sehingga, karena lingkungan terus melakukan kerja tanpa mendapat energi, energi internal lingkungan akan berkurang, secara fisis dapat terlihat suhu lingkungan yang terus menurun. 

Logikanya, ketika suhu lingkungan terus menurun, sedangkan sistem terus menerus mendapat pasokan energi dari panas latent yang dilepas uap air saat berkondensasi menjadi tetes awan. Maka terdapat perbedaan densitas diantara keduanya. Dan proses adiabatik memperparah hal tersebut ..... Sehingga pertumbuhan awan konvektif (yang cenderung menjulang keatas) terjadi, dan terbentuklah awan Cb.

Its main ingredient: Much water vapor in the atmosphere! 

Saat ini, Indonesia sedang dilanda oleh 3 fenomena atmosfer .....
1. Monsun Asia Musim Dingin (MAMD)
2. Strong La-Nina
3. IOD Negatif (http://www.news.com.au/technology/environment/the-three-climactic-conditions-which-suggest-a-long-and-difficult-bushfire-season/news-story/1db2aea5af7108c4419a00f1406e9387)

Yulihastrin (2010) menyatakan bahwa monsun memiliki peran yang penting dalam peningkatan dan penurunan curah hujan di Indonesia. Hal ini dikarenakan banyaknya uap air yang terbawa saat melintasi laut china selatan.

Ilustrasi Monsoon (source: http://www.goes-r.gov/)


Habis El-Nino, terbitlah La-Nina ..... Kedua osilasi atmosfer yang biasa disebut ENSO ini memang hanya terjadi pada periode inter-decadal (2 hingga 7  tahunan). Namun, ENSO sendiri memiliki pengaruh sebesar 50% terhadap variasi curah hujan di Indonesia (Estiningtyas dkk., 2007). Saat ini La-Nina kuat sedang terjadi, La-Nina terjadi karena adanya penguatan prevailing trade winds sehingga kolam panas yang seharusnya berada di pasifik sedang bergeser ke Indonesia, yang membuat Indonesia menjadi kaya akan uap air! 

Ilustrasi La-Nina (source: https://www.theweathernetwork.com/)

Adapun Indian Ocean Dipole negatif, dimana keadaan Suhu Permukaan Laut (SPL) samudera hindia barat lebih dingin daripada SPL di timur, sehingga terjadi perbedaan tekanan dan terdapat pergerakan angin yang membawa uap air melimpah dari afrika ke australia melewati samudera Hindia dan Indonesia. 

Intinya ..... Uap air di Indonesia, dikarenakan ketiga fenomena ini, sangat melimpah! Dan ini menjadi bahan utama terbentuknya hujan maupun badai.

Waktu Hujan di Bandung

Penting untuk diketahui, bahwa distribusi curah hujan terhadap waktu hampir bisa dikatakan seperti grafik 1/x


Fisisnya, semakin tinggi intensitas curah hujan, semakin sebentar waktu hujan terjadi ..... Artinya, awan Cb yang membuat intensitas curah hujan tinggi, seharusnya terjadi sebentar (paling lama 1 hingga 2 jam). Namun, hujan yang terjadi kemarin memiliki durasi yang cukup lama. Mengapa?

Hal ini penulis duga terjadi karena adanya front panas yang terbentuk setelah badai terjadi. Front adalah batas pertemuan dua massa udara yang mempunyai sifat fisis (suhu dan densitas) yang berbeda (Tjasyono, 2004). Front panas terjadi ketika terdapat massa udara panas yang bergerak kemudian menabrak massa udara dingin yang diam. Karena massa udara dingin memiliki densitas udara yang lebih berat daripada massa udara panas. Maka, massa udara panas tadi dipaksa naik, hingga pada ketinggian tertentu, terjadilah kondensasi. Awan yang terbentuk pada front panas biasanya awan stratiform (biasanya nimbostratus), yang tipis dan luas. Intensitas curah hujan yang dihasilkan rendah, namun durasinya lama/awet.

Penting untuk dicatat, front sangat jarang terjadi di Indonesia, karena perbedaan suhu udara di Tropis tidak begitu tinggi. Massa udara di benua tropis cenderung massa udara panas yang memiliki densitas rendah. Lantas, darimana datangnya massa udara dingin kemarin? Jawabannya adalah dari badai yang terjadi sebelumnya!

Kondisi kota Bandung yang berbentuk cekungan, berada pada ketinggian diatas 700 mdpl, dianalisis dapat membantu pembentukan Cold Pool atau kolam dingin ..... Sesuai definisinya, Cold Pool adalah daerah yang memiliki suhu udara relatif dingin pada peta cuaca yang biasanya ditunjukkan pada isoterm tertutup. Nah, dengan adanya Cold pool ini, Front panas dapat terbentuk. Massa udara panas yang kaya akan uap air (ingat 3 fenomena cuaca yang sedang terjadi) dapat dibawa oleh angin monsunal atau juga angin laut yang terjadi di siang hari hingga menabrak Cold pool yang ada di Bandung. Untuk itu, setelah badai cumulonimbus selesai, pembentukan awan nimbostratus terjadi. Hal ini menghasilkan hujan yang tidak terlalu tinggi intensitasnya namun durasinya lama! Hingga hampir jam 20.00 baru selesai loh.

Yaps, demikian analisis mekanisme Hujan di Kota Bandung pada 13 November 2016. Karena Bandung ini cukup unik strukturnya, Hujan seperti 13 November bisa saja terjadi di lain waktu ..... Banjir seperti tsunami ataupun air bah bisa terjadi dimana dan kapan saja ..... Jika melihat adanya badai petir disertai hujan deras, lebih baik untuk berteduh ataupun stay di tempat yang aman :) Jangan diterobos gaes! Stay safe!