Showing posts with label Pemuda. Show all posts

Melihat postingan viral dalam Bahasa Inggris, Netizen: Kenapa harus berbahasa asing sih?


Beberapa Bahasa Asing

Beberapa hari yang lalu, ada satu postingan viral terkait tweet seseorang. Tweet ini mengumumkan agar pengguna gojek atau ojek online lainnya serta driver agar berhati-hati karena adanya modus tindak kriminal. Jadi ceritanya, doi lagi nongkrong di depan rumah, terus ada driver gojek yang diminta pemesan ngecek rumah orang tersebut, sampai-sampai dia tahu dimana lokasi bel rumah yang katanya agak tersembunyi. Nah usut punya usut, si driver dan pemilik rumah coba ikutin kemauan ini pemesan, hingga diakhir, ada pertanyaan yg terlalu obvious "Di rumah sedang kosong tidak?". Sontak driver dan pemilik rumah langsung cancel itu pesanan sih. Dan berharap supaya semuanya berhati-hati terhadap modus gini, apalagi udah mau dekat lebaran.
.
Menariknya, semua informasi ini ditulis dalam bahasa Inggris. Status viral tersebut pun mendapati banyak respon. Ada yang positif ada yang negatif. Tapi, regardless the topic, para netizen malah bicarain tentang Bahasa. Sumpah ini bikin ngakak sih. Banyak yang mengecam kenapa sih untuk informasi yang ditargetkan untuk orang Indonesia, harus diberitahukan pake Bahasa Inggris (?)

Well, sini aku kasih tahu alasannya. Kira-kira gini:

1. Untuk orang-orang seperti gue dan kebanyakan circle yang gue kenal. Kami telah menyadari bahwa berbahasa Inggris itu penting, baik dalam karir, ataupun sekedar senang-senang. Lantas, sebagai orang yang bahasa ibunya bukan Bahasa Inggris, kami pun mempraktekannya sehari-hari. Baik dalam menulis, hingga berbicara dengan teman-teman dekat kami. Contoh: Gue dan temen sekamar gue sering bercerita dalam bahasa Inggris randomly atau dengan sengaja. Atau, gue sering curhat voice note dengan sahabat gue via line pake Bahasa Inggris. Iya, sepenting itu buat nge-biasain berbahasa
2. Gue to the point aja ya, ternyata menulis paper dalam bahasa Inggris itu susahnya minta ampun, sangat berbeda dengan bahasa tulisan gue di-blog. Lantas, untuk menjelaskan berbagai fenomena keilmuan, gue membiasakan diri untuk menulis pake Bahasa Inggris dan lebih ilmiah. Sekali lagi, ala bisa karena biasa. Sesimpel itu, agak sulit memang, karena targetting gue harus tembus makalah Internasional untuk TA gue misalkan. Iya, se-ambis itu.
3. Lingkaran pertemanan gue, alhamdulillah, udah cukup Go International. Dibekali oleh pengalaman International Conference di beberapa negara, lingkaran pertemanan pun bertambah. Nah, karena gue sering sharing ide dan pengalaman gue terhadap suatu hal, gue ga pingin temen-temen gue ini ga ngerti sebenarnya fokus dan concern gue sebenarnya apa. Yaps, to assure they understood what I thought, ya mau ga mau harus pake Bahasa Inggris. Dan lagi-lagi, semakin sering kalian mengutarakan ide lewat bahasa asing, semakin mahir pula kalian dalam menyampaikan pendapat dan ide tersebut di lain waktu. 
Listnya bisa terus bertambah. The point is, sebelum teman-teman judge seseorang kenapa harus berbahasa Inggris padahal targetnya orang-orang Indonesia, iya, bisa jadi mereka punya alasan yang sama dengan gue, atau lebih banyak lagi. Satu point tambahan dariku, Bahasa yang dapat menjadi jembatan antar budaya dalam berkomunikasi, menjadi penting untuk menambah pengetahuanku. Misalnya dalam ilmu Meteorologi, sumber kredibel seperti paper dan artikel jumlahnya masih sangat terbatas. Cara untuk meningkatkan opportunity-nya adalah, dengan menggunakan search query dalam bahasa Inggris. Belum lagi dari segi konten berita, dan pengetahuan lainnya, sumber-sumber kredibel juga sangat terbatas dalam Bahasa. Perlu bukti? Coba cek saja lewat google, mostly search query orang Indonesia tuh seperti apa. Haft, memprihatinkan!

So gaes, tetap semangat yah dalam mempelajari Bahasa Asing, kalau ga tahu artinya, simple, udah ada google translate. Jadikan itu sebagai alat bantu awal, selanjutnya? Belajar lagi dong! Kalian ga pengen apa, ngerti orang asing lagi ngomongin apa ..... Kalau gue sih pengen :p

"1 Bahasa akan menetapkanmu dalam suatu Koridor Kehidupan, 2 Bahasa akan membuka setiap pintu dalam perjalananmu" - Frank Smith

"Keterbatasan Bahasa berarti keterbatasan duniaku" - Ludwig Wittgenstein

Best Regards,
Muhammad Rafi Al-Hariri Nasution
Native Speaker Bahasa, C1 English, B1 Deutsch, B1 Dutch, Beginner French

Kenapa Memilih Kuliah di Meteorologi ITB? (Part 2)


Hal-Hal yang akan dipelajari di Meteorologi ITB


Buat adik-adik yang masih bingung kenapa harus kuliah dan tetap stay di Meteorologi ITB, dan sebelumnya belum membaca artikel yang gue buat disini. Sebelumnya gue ingin tekankan, bahwa artikel ini bukan untuk promosi atau endorse jurusan ini, karena gue juga rugi dong ga dibayar sama sekali haha. Untuk traffic juga ngga sih, soalnya peminatnya juga dikit 😜😛😛 Tapi ini lebih ke testimoni sebagai alumni yang alhamdulillah cukup bersyukur pernah mengenyam pendidikan di jurusan dan kampus ini.

Kali ini gue akan cerita tentang Semester 5 dan Semester 6 yang -alhamdulillah- masih menjadi semester favorit gue karena too much drama baik dalam kehidupan pribadi, hingga di jurusan ini. Semester 5 dan 6 ibarat kata Klimaks dari suatu film drama, bertema Kuliah di Meteorologi ITB haha. Baiklah ini dia ......

Meteorologist Expectation
Meteorologist in a nutshell - Illustration

Semester 5 di Meteorologi ITB


FYI, sejak semester 4, gue terbiasa ngambil 24 SKS, dengan harapan lulus 3.5 tahun atau minimal 4 tahun (padahal ga jamin juga dan kebukti lulus 4.5 tahun), serta sayang aja gitu, 20 SKS dirasa kurang greget (ga niat sombong) dan dirasa sangat Gabut. Oke, di semester ini, gue sudah menentukan jalan apa yang akan gue ambil ke depan. Dari 3 Kelompok keahlian yang ada baik itu Sains Atmosfer, Meteorologi Lingkungan, dan Meteorologi Engineering atau terapan, gue menentukan kalo gue akan ambil 2 KK sekaligus, yaitu Sains Atmosfer dan Meteorologi Lingkungan. Kenapa?

Gue sangat suka mempelajari Meteorologi Dinamik (yang isinya turunan-turunan numerik dan rumus-rumus beserta cacing-cacing dan difrensiasi fenomena Meteorologi) yang berguna untuk menjelaskan Fisis Meteorologi numerically. Gue sangat menikmati otak gue diputar-putar untuk menurunkan dan membuktikan rumus-rumus itu, dengan bantuan google, bekal Fisika Matematika (Fismat), dan logic gue.
Baiklah, menjadi peramal/prediksi cuaca sepertinya sangat menarik. Dibekali pengetahuan bahwa challenge meramal cuaca di Indonesia itu luar biasa besar. Kenapa? Yah liat aja secara letak geografis gimana. Diapit 2 benua dan 2 Samudera is not a things loh! Itu artinya, lo harus siap buat meramal kompleksnya cuaca di Indonesia yang theoretically punya 2 sistem monsun, ditambah anomali-anomali gelombang secara zonal dan meridional ....... "Kak itu apa?" akan dengan senang hati ku jawab "Tenang dek, nanti bakal belajar kok 😕"
Tertarik untuk mempelajari Meteorologi Skala Meso nanti, setelah mengenal Prediksi Cuaca secara Numerik secara mendalam nanti. Apakah itu? Meteorologi yang mempelajari fenomena cuaca dalam skala Meso atau 20 - 2000 km lebih tepatnya.
Ingin mempelajari bahasa pemrograman dan tools lain dalam analisis cuaca dan Iklim
Menghindari ilmu elektronika yang sudah tidak disukai dan merasa tidak klik dengan ilmu itu sejak SMP. Iya, bahkan membuat rangkaian paralel dulu, gue tuh dibuatin sama bokap sangkin ga suka sama urusan begitu waktu SMP. Haha
Last but not least, kenapa Meteorologi Lingkungan? Sebagai KK sampingan, jikalau tugas akhir yang diambil akan dirasa sulit. Karena kabarnya, KK ini memiliki tingkat kesulitan TA yang paling mudah dan manusiawi, serta tidak terlalu memutar waktu*
 *Ups padahal ngga juga, TA Meteorologi Lingkungan dan Engineering, theoretically merupakan lanjutan Sains Atmosfer, demi menjelaskan masalah teknis dan lingkungan yang ada

Paket Minor (Kelompok Keahlian) Meteorologi ITB

Nah, karena sudah ditentukan, akhirnya gue ambil ini:
1. Energi Angin dan Matahari
2. Kebijakan Iklim
3. Agrometeorologi
4. Rekayasa Lingkungan
5. Analisis Data Cuaca dan Iklim 1
6. Sistem Informasi Meteorologi
7. Meteorologi Dinamik II
8. Metode Prediksi Cuaca Numerik I


Baiklah, Mata kuliah  berwarna merah adalah mata kuliah pilihan, gue memilih ini karena pure gue suka dan ingin mempelajari lebih lanjut. Yups, Energi Angin dan Matahari kan part dari renewable energy atau energi baru dan terbarukan tuh. Salah satu aset penting dalam penyediaan energi berkelanjutan dan mengurangi emisi gas rumah kaca yang disebabkan oleh Energi berbahan bakar fosil dan batu bara. Maka dari itu Energi Angin dan Matahari sebagai salah satu sasaran mata kuliah pertama pilihan gue.

Kunjungan Lapangan Mahasiswa Meteorologi ITB 2012
(Beberapa) Meteorologi ITB 2012 di Lentera Angin Nusantara, Ciheras

Kebijakan Iklim lain lagi, karena gue udah ngambil mata kuliah Perubahan Iklim semester lalu, yasudah gue ambil ini buat memahami bagaimana ide-ide brilliant di-implementasikan sebagai suatu kebijakan dalam lingkup lokal, regional, nasional, dan Internasional. Iya, mata kuliah ini ga pernah sepi peminat btw, dibatasi maksimal 200 orang saja. Isi kuliahnya juga ga itu-itu aja, kita diminta melakukan kampanye, atau mengundang pembicara kelas kakap yang sudah ahli dibidangnya, melihat kondisi lapangan terkait pengaruh perubahan iklim, dan masih banyak lagi. Love and enjoy it!

Nah, adapun rekayasa lingkungan, gue ambil karena disaranin kakak kelas sih buat at least dicoba ambil, karena pelajarannya terkait AMDAL dan IPAL yang mungkin bisa jadi bekal gue untuk belajar terkait HSE juga haha.

Baiklah, bagaimana dengan mata kuliah wajibnya ka? Oke, terkait Analisis Data Cuaca dan Iklim I, lo bakal belajar pengolahan data cuaca dan iklim dengan menggunakan tools yang ada, mostly excel dan matlab. Karena baru pertama kali pakai matlab saat itu, kita benar-benar diajari dari awal banget step by step dan hal-hal apa aja yang bisa dilakuin oleh matlab. Yups, setelah dikasih arahan, tugas yang dikasih juga agak disusahin, tapi jujur itu malah jadi challenge buat gue. Yups, basically Andat I so nthaps so anedh!

Nah untuk sistem informasi meteorologi (Simet) dan Metdin II, gue sendiri ga terlalu minat mendalami itu. Padahal harusnya menarik sih, cuman kadang faktor metode mengajar sangat mempengaruhi sist, so se-mainstream itu biasanya angkatan ga pada suka juga hahaha. Tapi teteup, belajar menjadi suatu tuntutan, basically, harus bisa belajar sendiri baik via google ataupun bertanya dengan kakak tingkat.

Last but not least, Metode Prediksi Cuaca Numerik I, salah satu favorit w karena apa-apa yang gue pelajari di Metdin, Metfis, dan Fismat, diaplikasikan lewat matkul ini. Tapi pake bahasa pemrograman Fortran. Karena ini baru awal banget, produk prediksi biasanya ngga berupa prediksi cuaca (curah hujan berapa mm, kecepatan angin berapa, dsb). Tapi lebih ke pendekatan apa aja sih yang dipake dalam prediksi cuaca. Contoh: Bagaimana output streamline jika digunakan pendekatan hidrostatik dan non-hidrostatik, finite difference dan spectral, barotropik dan baroklinik. "Kak itu apa?" lagi-lagi w akan jawab "Tenang, nanti kalian akan belajar kok. Nikmatin!"

Semester 6 di Meteorologi ITB


Mulai dari semester ini, please keep in mind, buang jauh-jauh rasa ego kalian terhadap diri sendiri, karena mulai dari sini, semua tugas kalian akan dikerjakan secara berkelompok. Bisa jadi dalam 1 kelas dibagi ke beberapa kelompok, atau mengerjakan tugas besar dalam 1 kelas besar (nilai agak sosialis, semua sama rata, kecuali kalian jujur siapa saja yang tidak ikut ambil peran dalam pengerjaan tugas!). Trust me, daripada sakit hati, it's ok for not writing your member's name, while you had done your best to approach them. 

Yaps, as far as I remember, yang gue pelajari saat di Semester 6 adalah: sabar, manajemen waktu, manajemen tim, desain powerpoint, presentasi, acceptance atau penerimaan. Iyah, yang lain adalah bonus hahahahhaha 😭😭😭

FYI, mata kuliah utama di semester 6 tuh ini:
1. Fismat IIB (Bagi yang rencana ngambil sains atmosfer)
2. Metode Prediksi Cuaca Numerik II (Model II)
3. Analisa Data Cuaca dan Iklim II (Andat II)
4. Meteorologi Satelit (Metsat)
5. Hidrometeorologi (Hidromet)
6. Manajemen Informasi Cuaca dan Iklim

Biru: Disertai praktikum

Yah, walaupun hanya 3 praktikum, tapi semester ini cukup hell jika lo dapat tim yang gabisa diandalkan a.k.a. Ilang-ilangan. Belum lagi fismat IIB yang isinya ambigu, MICI yang strict dengan peraturan kelasnya, ataupun Hidromet yang harusnya menarik, namun sayang tidak bisa dimengerti haha.

OK. Dalam keseharian belajar, sebenarnya ga akan terlalu berbeda dari semester-semester kemarin. Cuman yah, karena tugasnya harus kelompok, masing-masing anggota harus punya peran masing-masing. Kalau di Model II, masing-masing orang harus memegang parameter utama meteorologi (Temperatur, Tekanan, Angin, Kelembaban, dan Curah Hujan sebagai output utama yang diinginkan). Kita diminta mencari suatu fenomena ekstrim (di luar hujan es) baik itu berupa angin kencang ataupun hujan lebat yang menyebabkan banjir. Disini kita diminta pakai "What if" methods. Gimana kalau sebelum kejadian ekstrim itu, kita memprediksi cuaca. "Output apa yang akan didapat? Metode apa yang terbaik? Kenapa?" Yah, at least 3 pertanyaan ini harus dijawab sebagaimana mestinya.

Di Model II kita benar-benar mengaplikasikan segala ilmu baik dari fisis, dinamis, statistik, untuk menjawab hipotesis prediksinya baik atau tidak. Kerjaan gue saat ini, sebagai Customer Analyst, bisa direfer ke Business Analyst, most likely mirip banget sama matkul ini. Dalam pengelolaan data, jika ada suatu temuan, harus ditemukan jawabannya "Kenapa?". Menuju kesana bukanlah hal yang gampang, perlu beberapa kajian secara empiris jika diperlukan. 

Di Model II juga, setiap orang emang harus punya peran masing-masing, gue sendiri pake strategi "You guys, just need to do Data Preparation dan Interface", sisanya gue yang ngerjain baik dalam hal jalan cerita, analisis, tebakan fisis, sedangkan untuk pengkajian metode berdasarkan paper, gue serahkan ke beberapa orang buat bantu cari paper pendukung. Di 2 praktikum pertama gue nangis-nangis karena semua plan gue hancur, nelfon bokap 2 hari sekali buat curhat, tidur hanya 3 - 4 jam sehari, makan sempat ga teratur. Disini gue belajar bahwa "Things can go wrong, and no need to regret anything, what I need to do is evaluate, keep moving forward, fixed the fucked-up ones". Ada hal juga yang harus lo perhatikan, kalo setiap orang ga punya semangat yang sama kayak lo, ada yang semangat, ada yang ingin membantu, bahkan ada yang tidak peduli sama sekali.

Don't focus yourself with the fucked-up ones, it's going to take all of your energy. Just focus with what you got instead. Iyah, tim yang mau dan mencoba untuk peduli
Voila, di 4 praktikum selanjutnya, gue udah berhasil nangkep ritmenya, dan setiap minggunya, hasil kelompok kami makin baik hohohoho

Nah, di Andat II, di awal kalian sudah langsung diasumsikan mengerti detail matlab, which is, langsung pengaplikasian metode analisis ke real data yang udah ada! Nah, hal yang begini nih yang jadinya lumayan gereget haha. Mostly gue habiskan waktu untuk oprek fungsi-fungsi matlab dan scripting. Bagi gue yang udah mendedikasikan diri buat belajar lebih mah ga masalah, cuman kalo kalian ga suka dan merasa ga passion, jadinya ga bagus ih. Beban andat terasa lebih berat lagi karena harus membuat laporan + presentasi + scripting yang semuanya purely belajar dari google. Intinya? Jangan hilang harapan dan harus terbuka untuk selalu belajar.

Kalo gue pribadi yang memang mau fokus ke sains atmosfer, fokus ke 2 mata kuliah ini aja cukup, tapi, karena gue orangnya ngerasa ga begitu jenius dan siap untuk belajar apapun, semua harus diterima dengan lapang dada. Setiap materi akan gue coba catat, ngerti ga ngerti belakangan, karena pasti bakal dipelajari lagi menjelang ujian :") Hidrometeorologi apalagi, ini matkul aplikatif maksimal, dalam tatanan pembangunan infrastruktur, dalam dunia teknik sipil, pertambangan, perminyakan, mata kuliah ini bisa jadi alternatif lain untuk meyakinkan lo punya skill yang tepat. Kenapa? Karena biasanya di dunia itu, pasti diperlukan kajian secara hidrologi, hidrogeologi, dan hidrometeorologi. Diriku pribadi tertantang untuk mempelajari itu, tapi sayang ga bisa fokus ke semuanya. Ini tuh engineering banget hehe. Yasudah gue lakuin yg terbaik aja.

Last but not least, MICI bisa menjadi tempat pelarian dari penatnya tugas-tugas yang lain. Walaupun suasana kelas cukup mencekam karena pembawaan dosen yang serius, namun disini pikiran lo ga terlalu terbebani. Basically, gue menemukan tempat ini sebagai temporary escape dari tugas-tugas lainnya. Pelajarannya manajemen banget, tapi manajemen informasi cuaca dan iklim. Gimana menyederhanakan hasil pengelolaan data yang sebegitu rumitnya, bisa dikemas serapih dan sesimple mungkin, supaya masyarakat bisa memahami informasi tersebut. Simple kan? No not really, ada beberapa pendekatan yang perlu dilakukan, silahkan belajar ini nanti hohohoho.

Gimana? Udah merasa tercerahkan ga mau belajar apa disini? Atau malah terkesan menakutkan? Santai, ini ga semenakutkan itu, bahkan bisa jadi pembelajaran maksimal dan bakal kepake di dunia kerja kok. Gue se-grateful itu pernah masuk Meteorologi ITB, karena sangat membantu gue adaptasi di dunia kerja yg gue geluti saat ini. Iya, sebagai Customer/Business/Data Analyst. Satu pesan gue, mulai tentuin diri lo mau kemana. Lo harus percaya, kalo lo disini pasti ada alasannya, you're here for a reason. Apa itu? Dunno, just tried to find it yourself ya!

Pengumuman Mapres ITB 2015 - Finalis
Pengumuman Mapres ITB 2015 - Hanya sebagai perwakilan FITB hehe

Good luck dek! Do not hesitate to comment below, gue setiap hari cek blog gue kok, jadi in shaa Allah bakal gue jawab :)

Bonus: These people, somehow, helped me passed this extremely hard semester :") Thanks gengs drama!

Geng ghibah di ITB, drama as fuck
Geng Drama ITB

Menanggapi kontroversi - Saya Indonesia, Saya Pancasila


Logo Saya Indonesia Saya Pancasila

Sebuah Kontemplasi pasca Hari Kesaktian Pancasila

Kemarin, di hari kesaktian pancasila, newsfeed instagram, facebook, dan twitterku dibanjiri foto anak muda, yang bertuliskan "Saya Pancasila, Saya Indonesia". Sebagai orang yang sering campaign tentang lingkungan, aku tidak begitu heran, karena aku pun begitu sering mengajak teman-temanku untuk mengenakan template foto yang menyiratkan pesan yang kami bawa. Dalam bentuk acara apapun, kami sering melakukannya. Entah itu pensuasanaan, atau memang pure campaign untuk membawa pesan tersirat. 

Jujur, walaupun aku tidak ikut berpartisipasi pada gerakan tersebut, aku sendiri sangat senang dan penuh keyakinan. Dibalik foto-foto ini, banyak orang yang mulai membuka dan mengeksplor kembali lembaran-lembaran lama, yang bertuliskan makna dari Pancasila. Aku berfikir positif, anak-anak muda ini, mulai me-refresh kembali butiran-butiran pancasila, dan bagaimana mengamalkannya. Yaps, that's the point of this campaign, encouraging youth to understand what it is to be Indonesian, especially those who support Pancasila, as their fundamental ideology through their life.

Namun ternyata, aku masih heran dengan manusia. Kampanye yang begitu positif, yang dibuat untuk mengajak kembali anak muda untuk mengerti apa artinya pancasila, bagaimana menjadikannya sebagai ideologi dasar, yang bisa menuntun generasi ini ke arah yang lebih baik, harus dikotori dengan tulisan-tulisan sinis terkait hal tersebut. Ada yang mengatakan kalimat ini Egois karena menggunakan kata "Saya" bukan menggunakan "Kita". Atau bahkan, ada yang mengatakan bahwa para netizen ini hanya demam dan ikut-ikutan trend belaka, sok nasionalis, sok bhinneka tunggal ika, sok cinta pada keberagaman. OMG, akupun mulai berfikir "Se-pesimis itu kah negara ini? Sampai-sampai aksi seperti ini harus dikritik pedas? Se-pesimis itukah kalian terhadap kami, para millennials yang terkesan amburadul, liberal, tidak perduli aturan, dsb?". Aku akan siap menjawab "Tidak!", aku pribadi masih punya mimpi untuk bangsa dan negara ini, dengan aksi-aksi kami, dengan kampanye-kampanye kami, dengan tulisan-tulisan kami, prestasi kami, yaps, aku masih se-optimis itu.

Ada juga hal yang perlu digarisbawahi, janganlah kalian mengecam seseorang yang memulai dengan "ikut-ikut-an" (dalam istilah positif yah), karena pada dasarnya, manusia dibentuk dengan cara seperti itu, kan?. Kalau diingat-ingat, apa yang kita pelajari sejak kecil juga hasil ikut-ikutan. Tidak ada salahnya juga, kan?. Siapa yang bisa menyangka, kalau orang-orang yang awalnya hanya ikut-ikutan relawan, bisa menjadi aktivis lingkungan, kebencanaan, pendidikan, kesehatan, dan masih banyak lagi. Karena, somehow, dengan ia mencoba ikut-ikutan, ia mulai tertarik untuk mempelajari lebih dalam, ia mau mencoba untuk mengerti, bahwa yang ia perjuangkan, itu benar.

So gaes, masih mau berfikiran negatif lagi?

PS. This post won't judge every Indonesian pessimistic. As pedestrian, I already realize, from thousands of people, there might be several outliers which will be breaking the law (riding their vehicles on the sidewalk), and they might come from every religion, race, or community, but it won't judge those groups at all, because once again, they're just ..... outliers!


Tentang Aksi, Pemuda: Bukan hal yang untuk diperdebatkan


Tentang Aksi dan Kepemudaan


Belakangan ini, aku melihat beberapa fenomena terkait ajakan seorang -yang menjuluki dirinya sebagai aktivis- kepada orang-orang -yang dianggap apatis-.

Diawali dengan tulisan bahwa pemuda adalah roda pergerakan, utamanya dalam hal kemerdekaan. Sang penulis pun men-judge orang-orang yang tidak dalam pergerakannya kemarin sebagai orang-orang mager (malas gerak) -might refer to apathetic-. Adapun tulisan dibumbui kalimat bahwa Mahasiswa tidak hanya bertanggungjawab dalam mencari nilai dan ilmu, ataupun ikut lomba. Ia menyangkal bahwa ada beberapa hal yang lebih besar dari itu.

Alih-alih mengagungkan suatu pergerakan yang bernama demonstrasi, beliau meng-klaim bahwa hal tersebut sangat efektif untuk melakukan perubahan, dan mahasiswa bertanggungjawab untuk itu. Tulisan pun diakhiri dengan quotes dari uncle Ben dalam film Spiderman. Lebih menarik lagi, tulisan seperti ini pasti akan banyak pro dan kontranya. Apalagi jika tulisan hanya berisi konten tersirat dan klise, tanpa menjelaskan detail permasalahan dan solusi. People tend to be triggered by this. Beberapa komentar ada yang meng-klaim bahwa dalam memajukan bangsa bisa dalam bentuk banyak hal, tidak perlu ikut demonstrasi, malah harusnya lebih solutif daripada hanya berupa kajian atau apapun bentuknya.

I am not gonna say this was right and that was wrong. Pertama, dari tulisan penulis, kita harus ingat, bahwa reformasi juga diawali dengan pergerakan seperti ini. Atau, kalau kalian pernah dengar baru-baru ini, jutaan masyarakat korea turun ke jalan untuk aksi damai selama berminggu-minggu, hingga akhirnya Park Geun-Hye memutuskan untuk turun dari jabatannya. I am so in loved with those movement! Because I feel that's literally democracy and how it should stand for! Adalagi women march yang menjadi global movement di banyak negara. Dengan tujuan yang sangat clear, yakni Gender Equality, Women's Right are Human Right, dan beberapa isu dari race hingga discrimination, bersa ratusan hingga jutaan orang turun ke jalan. Ah, s u k a ! The lists can keep going though! Tidakkah kau suka untuk memperjuangkan apa yang kau percaya? Aku sih yes hoho

Women's March (Source: New York Time)
Kedua, melihat tanggapan netizen di kolom komentar. Saya pribadi tidak menyalahi pemikiran seperti ini. Benar adanya bahwa setiap orang punya concern  yang berbeda-beda. Ada yang berkutat pada penelitian (ikut proyekan dosen ataupun dengan tujuan tembus published paper di scopus). Ada juga yang berjuang untuk membuat suatu karya, alih-alih memenangkan lomba, tau-tau bisa tetap dilanjutkan hingga menjadi suatu karya yang besar. Ada yang mengabdikan diri mereka untuk mengajar anak-anak setempat, ada pula yang mengadakan proyek dalam bentuk event-event kecil dalam rangka membangun awareness warga sekitar, temanya bisa bermacam-macam, lingkungan, perubahan iklim, literasi, kepemimpinan, anything. The lists can be written as long as you want, as long as you can.

Pada dasarnya, what matters are the content of your action. We are talking about Action, an act, yang mungkin bisa kalian refer ke definisi kalian tadi. Just don't mind if it's still an idea. Semua aksi pada hakikatnya dilandasi oleh logika berfikir, dalam sebuah ide, yang akhirnya dibuat secara nyata. Tulis ide kalian di buku catatan! Jangan biarkan ide itu diam di kepala kalian. Diskusikan pada orang-orang yang kalian percaya punya visi yang sama, rencanakan, kerjakan! Jangan malu jika aksi kalian terbilang kecil dan tidak terlihat dampaknya, believe me, it works! All act matters, don't underestimate small project that you used to do. Banyak kenalan saya yang bergerak dari program kecil di masyarakat setempat, yang mungkin hanya se-level RT atau RW, tapi diapresiasi hingga level Nasional bahkan Internasional.

Tentang pemuda sebagai roda pergerakan. I couldn't agree more for sure. Kita berbicara tentang pemimpin masa depan loh, pemuda mana yang tidak memikirkan masa depannya? Generasi paling terdidik, generasi yang banyak mengenyam pendidikan tinggi dan bergelar sarjana. Berbicara tentang pemuda bukan hanya tentang Mahasiswa. Tapi kalian yang sedang membaca ini juga loh (bahkan saya juga loh) #masihmaudibilangmuda. Jangan pernah anggap remeh-temeh pernyataan ini, jika pemudanya saja pesimis, say the end to the game.

So guys, janganlah membuang waktu untuk berdebat kusir hal yang beginian. For those who think himself activist, don't judge others ya, I know you care so much with this country, but keep positive thinking that they're currently doing a good thing, ya. Semangat guys!

Best Regards,
Rafi
Alumni, Pemuda, Choleric-Melancholic (quite thinker)