Hmmmmmm, beberapa waktu yang lalu, aku sempat galau dalam memilih mata kuliah yang akan ku ambil, selain dari sisi "Apa" mata kuliahnya, aku juga berkutat pada pertanyaan "berapa".
Akupun memulai bertanya pada diri sendiri, mengevaluasi diri, dengan melihat nilai-nilaiku, sembari mem-flashback "Kenapa bisa dapat nilai itu?". Iya, aku sering melakukan hal ini, bisa untuk memperbaiki resolusi, juga memperbaiki sikap rafi yang dulu. Di waktu yang tak jauh dari itu, akupun teringat petikan status line teman dekatku, "Seberapa kerenkah anda? Coba bandingkan dengan anda yang dulu" - Benny Su. Tentu tulisan ini ada benarnya juga, yang penting bukan bagaimana hasilnya, tapi prosesnya, apa saja yang sudah berubah. Lebih baik kah? Atau malah lebih buruk?
Kembali ke topik. Apa saha sih yang terbenak di fikiranku? Seperti ini gambarannya "Apa saja sih yang kurang? Apa saja yang telah didapat? Apakah nilai itu cocok? Emang sudah seberapa besar usaha rafi? Praktikumnya gimana?" Dan masih banyak pertanyaan yang seakan saling beradu untuk segera dijawab. Aku tak akan menulis bagaimana hasil pemikiran 'liberal' ini, biarlah itu aku simpan sendiri :)
Selain mengevaluasi diri dengan segudang pertanyaan, tak lupa aku bercerita dengan Ayahku yang kala itu masih tetap pada aktivitas yang sama ..... berdagang. Lantas ku ceritakan hasil yang ku dapat, keluh kesahku pada mata kuliah yang ku anggap aku bisa namun tak sesuai ekspektasi, begitu pula apa yang kurasakan. Semua ku ceritakan. Awalnya, ayahku hanya menjadi pendengar anaknya, iya diam sejenak, mendengar segala cerita-cerita anak rantaunya. Hingga satu ketika, disaat aku sudah mulai menurunkan volume suaraku, dan terdiam, ia pun berbicara.
"Ari (begitu panggilanku di rumah), mungkin ari sering menyepelekan mata kuliah yang ari rasa ari bisa, yang malah membuat kau tidak berusaha lebih keras, jadinya tidak maksimal, dapatlah kau nilai segitu. Ari juga bilang kalo nilainya turun kan? Gapapa, mundur 1 langkah, maju 3 langkah. Jangan lupa bersyukur atas segala yang ari udah dapat, karena Allah udah bilang "Bersyukurlah maka akan Ku tambah", jadi jangan lupa bersyukur yah ri. Apapun yang ari lakuin pasti ayah dukung, asalkan itu ari dan ayah rasa baik. Tetap jaga kesehatan yah!"
Oke, setelah bercerita banyak, akupun merasa lega dan semakin terus mengevaluasi diri, dan benar .... Aku merasa kalau aku sering menyepelekan sesuatu. Mungkin itu yang membuat aku tak begitu serius dalam belajar mendekati ujian.
Dengan meninjau segala cita-cita dan keinginan kedepannya, akupun sudah mulai me-list mata kuliah yang akan ku ambil saat ini, hitung-hitung akan membantuku dalam kerja praktek, pikirku. Adapun 1 hal yang tak kalah penting "Bagaimana beban kuliah semester 6 ?"
Hmmmmm, ada tiga praktikum matkul wajib, enam matkul hitung-hitungan, satu matkul pilihan dengan praktikum, nol matkul senang-senang. Waaaahhhh, seems legit !
"yakin bisa raf ambil segitu? kuat ga raf? Ingat tanggung jawab diluar raf!"
Pertanyaan itu terus ternyiang di fikiran. Rasa ragu akan tak mampu, takut gagal, takut ga kuat, dan perasaan aneh lainnya pun terus berdatangan.
But wait, I am not that weak ! Aku tak selemah itu! "Memangnya kenapa kalau sekian sks? Memangnya kenapa kalo 4 praktikum? Memangnya kenapa kalau matkulnya hitungan semua?" Yah, pertanyaan yang menguatkan hati itu datang silih berganti. Hingga mendatangkan satu opini, satu opini kuat, penyemangat, yang membuat hati semakin mantap !
"Memangnya ada yang menjamin kalau lo ngambil sekian sks, lo bakal selamat? Memangnya ada yang ngejamin kalau lo ngambil sekian sks, lo bakal dapat nilai bagus? Memangnya ada yang bisa ngejamin kalo lo ngambil sekian sks, semua tanggung jawab lo diluar akan mulus? Lancar-lancar aja? Jawabannya nggak ! Mau sesedikit apapun sks yang lo ambil, ga akan menjamin lo bisa se-fokus apa yang lo bayangkan. Mau sebanyak apapun sks yang lo ambil, ga menjamin juga lo akan terdistraksi hingga lo mengorbankan banyak hal untuk menyeimbangkannya. Mau sesedikit atau sebanyak apapun sks yang lo ambil, matkul yang lo ambil, ga akan menjamin lo bertahan atau malah quit dari kehidupan sosial lo. Nggak, nggak ada yang bisa ngejamin ! Satu hal yang harus lo percaya adalah, ini semua adalah tentang seberapa besar EFFORT lo memperjuangkan tiap langkah lo ! seberapa besar EFFORT yang lo kasih untuk mencapai goal atau tujuan hidup lo. Effort atau usaha ini, bisa dalam banyak hal kok raf ! Manajemen waktu lo, sikap lo, jumlah tidur lo, jumlah belajar lo! Yang lo harus tahu, setiap orang punya 24 Jam 1 hari, lama tidaknya relatif, yang jelas semua punya jatah sama. Semua itu bisa lo bagi, sesuai kebutuhan lo, intinya ingat : Usaha, usaha dan usaha !"
Seriously, opini ini, pemikiran ini, aku ucapkan terus menerus sebelum akhirnya memutuskan untuk mengambil sekian sks di semester ini. Aku mantapkan hati, ku buat ku percaya diri. Karena Aku percaya, kalau aku tak sejenius Einstein, aku tak secerdas da vinci, dan aku juga tak sepintar Hawking, jadi aku butuh EFFORT yang lebih agar menjadi atau bahkan melebihi mereka.
Man jadda wajada
Hmmmmmm,
It's Life
Where you have hope in it
Where you have goal in it
One thing that I'll always remember is
Just forget the things that can't be done
When you have tried harder
But it was just too hard to reach it
This is Life
You do a thing
No matter it's small or Big
No matter it's worthy or not important at all
No matter it's exhausting or refreshing
Everything has its own impact
It's good or not?
Well, you decided~
This is Life
Where it has up and down
Left or Right
Truth or Lied
Positive or Negative
Beauty or Ugly
Large or Small
You named it
It has Millions coupled of them
We're in the middle of equilibrium
Action or Reaction
Dude, everything is Obviously
But, there's uncertainty
It's hard to predict it clearly
Let it be, Let it be, Let it be
Something has been decided
Something can't be changed
It's just a past
Just leave it behind and keep moving on
Let the past being a Lesson
Keep a Lesson being your Experience
Save it into your mind
And you'll be saved, one day, there's no warning, there's no signing
Learn everything from Nature
Time, always move on and never look behind
Even if you see the past, the time keep moving forward
Leaving you behind, if you don't try to chase it
View, what you see is what you get
If you can take it, let it be
If you can't, well you should change it
Tragedy, what you get is what you've done
Sometimes you think nature's so cruel
Has no Heart
Blame it all the time
But no, It never Lies !
When you give a good stuff, it surely gives you a good time
When you give a bad stuff, it surely gives you a bad time
Seriously, just be the nature, just be as it is
Ah,
Expected
A word that could make you strong .... or weak
A word that could make you confidence .... or doubt
A word that could change you to be a good or bad guy
It surely gives you spirit .... or not
It surely gives you energy .... or not
It just a matter of perpective
Coz Expected is Undefinable word
Just .... Don't play in Hesitance
It may hurts you, sometimes :))
This ! The best picture I've ever found, I guess. Coz, it really moved me, into a new one !
.
.
.
.
.
Mom, it's okey if you go to Him. Coz, you've done best to us. Allah wants you to be Happy, not in Suffer anymore. And I believe, why did Allah take you first, because
.
.
.
.
.
You're the Most Beautiful Ones between Flowers in the Garden :)
Assalamualaikum,
How do you do, brother, sister?
Well, tonight I wanna write something different. Well, recently, in holidays, I am doing my daily activity such as watching Movies and reading Novels like La Tahzan and Leadership Lessons from The Life of Rasoolullah SAW. Well, Seriously, It's really best Novels to see the Life with Islam's Perspective, especially, Rasoolullah (SAW). It moves me alot to be a great Leader with Extraordinary's Principles.
Well, tonight I don't want to examine it. I wanna share what I feel when I came to a part where Muhammad (SAW) would be Dead. He still show the way he's being Leader by the time Death would come through him. The books told me how we find an Extraordinary Team which is in Muhammad's case, how he choose the Caliph.
And then, I kept reading and reading, and .... voila, Muhammad's condition has recovered. And his sahaba, Usama bin Zayd, feeling relieve and asked for permission to leave. So did Abu Bakr (because he had promised to visit the Daughter of Khariza), and Omar and Ali returned to their businesses. I was feeling the same way, so relief.
And then .... I was reading the part when Muhammad's condition Rapidly deteriorated he would put his hand into a bowl of water and wipe his face and say, ‘As sakaraathil mawti bil haq’ (The stupor (suffering) of death is true.) - I was scared and overthinking it, even Muhammad said that :(
And then, came the final moments, the moment of Silent for me
.
.
.
Ayesha (RA) said, ‘I saw him looking towards the heavens and saying, ‘Bal il Rafeeqil A’ala Bal il Rafeeqil A’ala Bal il Rafeeqil A’ala.’ So I knew that the angel of death had come and asked his permission and he chose Allah(SWT) and did not choose us.’ Then his head turned towards me and I screamed.
.
.
.
Seriously, I was crying, blubber, sobbing, whatever it names.
I was scared, I was sad, I was .... I don't know, it hurts my heart, it was like, I could feel what just happened right there. And yes, Muhammad's death was the saddest moment for Islam. Surely.
And I just realized that ... Surely Muhammad was the best Leader in the world. Perfect. And I feel like "Why don't you give salawat to your Prophet raf? Why are you so Lazy to say Salawat? For thank him, I guess". Seriously, I felt the same way.
.
.
.
Oke, we still have time to change ! Hope this could inspire you, guys.
I am not that Religious, but surely people should change to be a better person, right?
"Bersyukurlah Maka akan Ku tambah !" - potongan (QS. Ibrahim : 7)
Ah, ini merupakan kalimat yang selalu terucap oleh ayah, ketika anak-anaknya sedang khilaf, mengesalkan sesuatu, dan ... menghambur-hamburkan uang.
Ia, sifat-sifat itu merupakan sifat yang sangat tidak baik katanya. Sifat yang tidak mencerminkan seorang muslim, bahkan sifat yang terkesan putus asa, namun bisa pula menciptakan kesombongan.
Ayah juga sering bercerita bagaimana sikap Bersyukur ini benar-benar membantunya. "Tak usah ambil pusing, Allah pasti bantu!" ungkapnya. Ia bercerita bagaimana ketika giro-giro itu sudah hampir jatuh tempo dan .... voila, selalu ada saja yang bantu. Setiap hari bagaikan sebuah keajaiban, giro-giro Insha Allah tertutupi.
Ayah juga sering cerita bagaimana ketika Almarhum Mama sakit kanker, biaya yang ditanggung? Luar biasa besar. Tapi ia katakan "Semuanya tergantikan, sewaktu mamakmu sakit, rezeki selalu ada kok. Biaya pengobatannya insha Allah selalu tertutupi". Keajaiban? Mungkin. Yang pasti, selalu ada aura positif dalam cerita ayah. Bagaimana ia menyikapi hidup, selalu optimis, tak pernah putus asa. Dari manakah semua itu? Bersyukur !
Ketika kita bersyukur, pastilah otak kita terdoktrin untuk selalu berfikir positif. Seperti yang baru-baru ini dirasakan. Rafi mendapatkan nilai 0 untuk Ujian akhir semester di salah satu mata kuliah. Sedih? Sudah pasti ! Tidak terima? Yah, sudah ditanyakan kok. Senang? Iya senang sekali ! Loh kenapa? Karena sudut pandang positif tentunya !
Pertama, Hasil kerja keras sendiri
Ini nih yang buat bahagia banget ! Open source bukan berarti bisa lihat kanan kiri, alhamdulillah, bisa berusaha melewati godaan setan !
Kedua, Mendapat pelajaran 'Jangan Sok ide!'
Hahaha, ini nih in banget ! Jangan sok ide deh ketika dosen yang mengajarkan agak-agak gimana gitu. Yang benar-benar hectic dan ga mau mendengar logika Mahasiswa. Intinya, mendapat pelajaran supaya menempatkan diri pada setiap keadaan. Jangan sok ide untuk case tertentu huhu
Ketiga, Jangan anggap remeh
Anggap remeh? Iya nih ! Begitu nilai UTS dan praktikum bagus, eh, gitu di UAS malah anggap remeh :") My bad ! Tau deh belajar jadinya H min 1, ga ada persiapan sama sekali. Ga datang di minggu-minggu terakhir (padahal ada kisi-kisi semberiwing).
Keempat, Jadinya ikut kulap kan ...
Jadi, khusus matkul ini ada kuliah lapangan yang dapat mengubah indeks nilai. Cukup membantu memang, tapi nguras tenaga sama otak. Malah dikulap udah mau nangis bikin alat yang diluar expectasi sama kondisi lapangannya. "Lapangan itu dinamis !" Iya banget lah. Sisi positif? Melatih kesabaran ! Mana tau ntar waktu kerja nemuin orang yang karakteristiknya mirip Mister dosen. Buatlah alat se-simetris mungkin, karena sifat fluida yang satu ini sangat rentan terhadap kondisi lingkungannya. The last one mungkin bisa makin tahu aja nih karakter anak-anak sejurusan. Mungkin. Ada satu lagi sih ... tapi, ah sudahlah. Huehehehe
Indah kan? Indah banget ! Melihat segala sesuatu dari sisi positif itu luar biasa menjernihkan pikiran. Segala sesuatu yang sulit, akan menjadi sangat mudah. Segala sesuatu yang melelahkan, akan menjadi sangat menyenangkan. Segala sesuatu yang membuat murung, malah dapat membuat tersenyum, melatih puluhan otot wajah, memproduksi suatu enzim yang menyehatkan bagi tubuh. Semua karena apa? Bersyukur !
Ada lagi efek khusus dari Bersyukur adalah menjadikan segala sesuatu kejadian sebagai pelajaran bahkan motivasi dalam hidup untuk mengevaluasi keadaan. Katakanlah jika rafi pergi kuliah, dengan niat untuk menerima pelajaran, namun ternyata tidak mengerti sama sekali dan merasa hanya kesia-siaan. Perasaan ini sering dirasakan oleh banyak pihak termasuk rafi mungkin. Bisa jadi dalam case lain. Lantas, apa kaitannya dengan bersyukur? Syukuri hari-harimu ! Kenapa? Karena ketika kamu bersyukur, kamu akan tahu apa sih yang menjadi kekuranganmu sehingga bisa jadi seperti itu. "wah, ternyata akunya sibuk main fb waktu bapak menjelaskan." "Wah ternyata aku telat 1/2 jam." dsb. Tau sendiri ketika kita sibuk dengan 1 aktifitas -yang mungkin- mengasyikkan, maka kita bisa lupa akan kondisi sekitar. Tau sendiri ketika kita telat 1/2 jam, mungkin pak Dosen sudah menjelaskan satu konsep mendasar untuk keseluruhan materi. Hal-hal seperti ini bisa kita dapat ketika kita bersyukur !
Konteks yang Lebih Luas
Dalam kondisi apapun, kita harus senantiasa bersyukur. Bahkan dalam bersosialisasi dan menjalin pertemanan. Bagaimana tidak, banyak dari kita yang mempunyai masalah pertemanan dari hal yang kecil namun dibesar-besarkan, dari hal besar dibuat semakin besar, bahkan dari hal-hal yang mungkin tidak ada pada diri kita, namun orang lain menceritakannya, mencemooh tanpa bukti, atau bahkan men-judge tanpa mengklarifikasi. Terkadang memang sulit jika dipandang dari sudut pandang biasa. Sering rasanya untuk "Don't give a s*it" atau "Let it be" serta "bodoh amat" dijadikan solusi. Namun, ada satu masa solusi ini akan terakumulasi dan meledak yang bahkan bisa memperparah situasi. Lantas, apa yang harus dilakukan? Lagi-lagi tetaplah bersyukur pada setiap keadaan". Kenapa?
Pertama, Mengajarkan untuk menjadi lebih dewasa
Ah, ini mungkin hal yang paling penting. Karena dengan bersyukur, kita dapat melihat sisi positif suatu masalah. Kita juga dapat melihat dan menggali lebih dalam akar dari permasalahan yang sebenarnya. Kita juga dapat mencari solusi yang mungkin permanen dari masalah itu dengan merubah keadaan atau mengubah diri kita. Mengubah diri tidak secara langsung dan terburu-buru tentunya. Mengubah diri dengan cara mengevaluasi segala keburukan dan mencari tahu cara yang tepat merubahnya.
"Jadi diri rafi sendiri dg karakter-karakter rafi. meskipun memang ada yg harus diperbaiki lagi." - Madam
Kedua, Pelajaran berharga dalam Hidup
Wah, ini tak kalah penting sih. Jadi, dalam menyikapi hidup, perlu melihat masalah dari berbagai sudut pandang. Jika masalah per-individu, cobalah liat dari sudut pandang kita, lalu dia, serta masalahnya apa. Bersyukur mengajarkan kita untuk merubah sudut pandang kan? Nah, dari sini kita bisa mempelajari tiap karakter orang-orang yang pernah mempunyai masalah dengan kita. Mumpung mahasiswa yang sebentar lagi akan memasuki dunia kerja, hal ini tentunya pelajaran yang sangat berarti. Karakter A, B, C sampai Z mungkin berbeda, perlu penanganan yang berbeda pula. Bersyukur mengajarkan kita untuk berfikir cepat dalam problem solving dengan cases yang sudah tersusun dalam otak sedemikian hingga.
Jadi? Pilih mana? Bersyukur atau berputus asa?! Kalau saya sih, bersyukur !
Bismillah, semangat dalam menghadapi Ujian dunia yang sementara ini ! Semoga kita dapat lulus dan menuju ke Positif Ketakhinggaan. Yuk sama-sama belajar menyikapi hidup !
Follow Me @rafi_haririInstagram