Tentang Aksi, Pemuda: Bukan hal yang untuk diperdebatkan


Tentang Aksi dan Kepemudaan


Belakangan ini, aku melihat beberapa fenomena terkait ajakan seorang -yang menjuluki dirinya sebagai aktivis- kepada orang-orang -yang dianggap apatis-.

Diawali dengan tulisan bahwa pemuda adalah roda pergerakan, utamanya dalam hal kemerdekaan. Sang penulis pun men-judge orang-orang yang tidak dalam pergerakannya kemarin sebagai orang-orang mager (malas gerak) -might refer to apathetic-. Adapun tulisan dibumbui kalimat bahwa Mahasiswa tidak hanya bertanggungjawab dalam mencari nilai dan ilmu, ataupun ikut lomba. Ia menyangkal bahwa ada beberapa hal yang lebih besar dari itu.

Alih-alih mengagungkan suatu pergerakan yang bernama demonstrasi, beliau meng-klaim bahwa hal tersebut sangat efektif untuk melakukan perubahan, dan mahasiswa bertanggungjawab untuk itu. Tulisan pun diakhiri dengan quotes dari uncle Ben dalam film Spiderman. Lebih menarik lagi, tulisan seperti ini pasti akan banyak pro dan kontranya. Apalagi jika tulisan hanya berisi konten tersirat dan klise, tanpa menjelaskan detail permasalahan dan solusi. People tend to be triggered by this. Beberapa komentar ada yang meng-klaim bahwa dalam memajukan bangsa bisa dalam bentuk banyak hal, tidak perlu ikut demonstrasi, malah harusnya lebih solutif daripada hanya berupa kajian atau apapun bentuknya.

I am not gonna say this was right and that was wrong. Pertama, dari tulisan penulis, kita harus ingat, bahwa reformasi juga diawali dengan pergerakan seperti ini. Atau, kalau kalian pernah dengar baru-baru ini, jutaan masyarakat korea turun ke jalan untuk aksi damai selama berminggu-minggu, hingga akhirnya Park Geun-Hye memutuskan untuk turun dari jabatannya. I am so in loved with those movement! Because I feel that's literally democracy and how it should stand for! Adalagi women march yang menjadi global movement di banyak negara. Dengan tujuan yang sangat clear, yakni Gender Equality, Women's Right are Human Right, dan beberapa isu dari race hingga discrimination, bersa ratusan hingga jutaan orang turun ke jalan. Ah, s u k a ! The lists can keep going though! Tidakkah kau suka untuk memperjuangkan apa yang kau percaya? Aku sih yes hoho

Women's March (Source: New York Time)
Kedua, melihat tanggapan netizen di kolom komentar. Saya pribadi tidak menyalahi pemikiran seperti ini. Benar adanya bahwa setiap orang punya concern  yang berbeda-beda. Ada yang berkutat pada penelitian (ikut proyekan dosen ataupun dengan tujuan tembus published paper di scopus). Ada juga yang berjuang untuk membuat suatu karya, alih-alih memenangkan lomba, tau-tau bisa tetap dilanjutkan hingga menjadi suatu karya yang besar. Ada yang mengabdikan diri mereka untuk mengajar anak-anak setempat, ada pula yang mengadakan proyek dalam bentuk event-event kecil dalam rangka membangun awareness warga sekitar, temanya bisa bermacam-macam, lingkungan, perubahan iklim, literasi, kepemimpinan, anything. The lists can be written as long as you want, as long as you can.

Pada dasarnya, what matters are the content of your action. We are talking about Action, an act, yang mungkin bisa kalian refer ke definisi kalian tadi. Just don't mind if it's still an idea. Semua aksi pada hakikatnya dilandasi oleh logika berfikir, dalam sebuah ide, yang akhirnya dibuat secara nyata. Tulis ide kalian di buku catatan! Jangan biarkan ide itu diam di kepala kalian. Diskusikan pada orang-orang yang kalian percaya punya visi yang sama, rencanakan, kerjakan! Jangan malu jika aksi kalian terbilang kecil dan tidak terlihat dampaknya, believe me, it works! All act matters, don't underestimate small project that you used to do. Banyak kenalan saya yang bergerak dari program kecil di masyarakat setempat, yang mungkin hanya se-level RT atau RW, tapi diapresiasi hingga level Nasional bahkan Internasional.

Tentang pemuda sebagai roda pergerakan. I couldn't agree more for sure. Kita berbicara tentang pemimpin masa depan loh, pemuda mana yang tidak memikirkan masa depannya? Generasi paling terdidik, generasi yang banyak mengenyam pendidikan tinggi dan bergelar sarjana. Berbicara tentang pemuda bukan hanya tentang Mahasiswa. Tapi kalian yang sedang membaca ini juga loh (bahkan saya juga loh) #masihmaudibilangmuda. Jangan pernah anggap remeh-temeh pernyataan ini, jika pemudanya saja pesimis, say the end to the game.

So guys, janganlah membuang waktu untuk berdebat kusir hal yang beginian. For those who think himself activist, don't judge others ya, I know you care so much with this country, but keep positive thinking that they're currently doing a good thing, ya. Semangat guys!

Best Regards,
Rafi
Alumni, Pemuda, Choleric-Melancholic (quite thinker)

Seni dalam Memilih Teman / The Art of Choosing Friends (Part 1)



GengGong Pertemanan
Ketika GengGong mengantarkan saya ke Bandara - Another special moment through my life

Ketika menjadi pemilih adalah sebuah kebutuhan 


"Some people think it's not okay to choose which one should be your friends, It might be true but for me, in this mad world, choosing friends is necessity to secure yourself from getting bad influence" - Me, to my beloved youngest brother
Dalam beberapa tahun terakhir, aku sering berdiskusi dengan sahabatku, Merliana, yang masih bergelar mahasiswa (bukan karena telat lulus, namun memang telat masuknya). Aku dan merli berteman sudah lebih dari 9 tahun (sejak SMP kelas 3). Takdir telah membawa kami untuk sebangku selama satu tahun lamanya. Kala itu, Merli, Eldina, Tuti, dan aku pun membuat satu geng yang bernama GengGong. Please don't ask me the definition of this, intinya geng ini adalah teman mainku selama satu tahun tersebut, titik.

For me, GengGong is sort-of a miracle, for the first time of my life, I was feeling needed and my existence through the world, where I belong to someone, and I became special to them
Yaps, GengGong telah berhasil membuatku menerima dan membuka diri, bahwa tidak semua orang jahat, tidak semua berdampak buruk, tidak semua akan membicarakanmu di belakang, tidak semua akan mengatakan dirimu Banci, tidak semua akan mendekatimu karena kamu pintar. Yaps, basically mereka memang sudah pintar-pintar. Kami dikumpulkan dalam satu kelas unggulan. Dari sekitar 40 orang, 37 orang diantaranya cewe, dan 3 orang lainnya pria. That's 1:12 for you. Entah mengapa, di angkatanku, entahlah atau mungkin seumuranku, bagi anak-anak cowo belajar bukanlah suatu prioritas. Aku yang kala itu telah taubat menuju jalan yang lurus, telah menyadari bahwa belajar itu bukanlah hal yang melelahkan, bahkan terkesan menyenangkan, banyak hal yang baru, yang ternyata sangat menarik untuk dipelajari. Sense untuk belajar ini, somehow cukup membantu dalam pembentukan pola pikir untuk menerima hal-hal yang dianggap tabu bagi seumuranku.

Perlu dicatat, menjadi GengGong, bukan berarti aku menutup diri dengan teman sekelas lainnya. Justrul karena aku telah masuk kelas unggulan, aku merasa sangat senang kala itu, tidak ada lagi drama untuk mencari alasan agar tidak ikut main dengan teman lainnya, karena aku yakin, mereka ini para ambitious yang punya mimpi besar dalam hidupnya. Seperti biasa, kelas unggulan atau kelas plus pasti 2 kelas yang paling ketat dalam persaingan prestasi dan namun paling kompak dalam hal apapun namun. Dalam lomba menghias mading, puisi, pidato, dan lomba lainnya there must be that talented person, haha. Tapi pastinya kelas-kelas ini kalah dalam lomba berbau olah-raga cowok (yaiyalah isinya cuman 3 jantan), namun unggul buat lomba-lomba olahraga cewek. Entahlah, cewek-cewek terpelajar biasanya ga manja dan ga takut keringatan, pasti unggul dalam hal-hal sepak bola cewek dan volley!

Say no more to examination drama, say no more to bullying drama. Because you won't hear any bullying in this prestigious class
Semua memiliki ceritanya masing-masing. Alasan mengapa mereka cukup ambitious untuk mau menyisihkan waktu untuk belajar.  "These people will make something great through their life" yaps, at least itu yang aku percaya dan dapatkan. Terutama untuk GengGong. Merli, yang selalu menjadi juara umum di SMP, wanita yang berprinsip teguh dan bermimpi besar untuk menjadi "manusia unggul" di negeri ini. Motivasi belajarnya simple, mengubah nasib keluarga. Iya, lahir dari keluarga tidak mampu, bukan berarti kau akan tetap pada kelas itu, kan? Jika dilihat, merli punya potensi penuh untuk terjun di dunia politik ataupun pengembangan komunitas. Idk, It's on her blood to care with others!


If you are born poor, it's not your mistake. But if you die poor it's your mistake - Bill Gates
Begitupun Eldina dan Tuti. Walaupun keduanya ingin menjadi guru, namun walaupun akhirnya mereka menjadi perawat,  tapi mereka tetap pada karir yang mulia. Dan lagi-lagi himpitan ekonomi tidak bisa menjadi penghalang untuk mendapatkan pendidikan tinggi, dan mereka telah melampaui hal tersebut.

Sejujurnya, sejak dulu, aku cenderung untuk memilih teman yang seperti ini. Mereka telah didewasakan oleh jalan pikir dan tujuan. Kesenangan bukanlah hal yang harus dicari sejak dini, namun pantas untuk diperjuangkan. Hidupku bukanlah hidup hambar yang diisi oleh kegiatan belajar, boleh bersenang-senang, tapi harus ada moment yang pas. Bukan kegiatan yang didapat setiap hari, sampai terlena, lupa waktu, dan tau-tau semua telah terlambat. Hasilnya? Momen itu jadi kenangan dan terasa spesial, loh!

Memilih teman adalah sebuah seni, ora et labora, yang semua akan indah pada waktunya. Menjadi pemilih dalam pertemanan, tidak berarti kau adalah orang yang tidak bisa menahan atau menjaga diri dari lingkungan sekitar. Karena somehow, benteng pertahanan diri bisa saja melemah dengan konflik yang ada. Disitu bisa jadi kau terpengaruh, loh 😕 Pilihlah yang bisa menginspirasimu, encourage, yang bisa diajak jalan bareng-bareng, support each other whenever you're on the bottom or the top, dan pastinya tidak mengajakmu ke jalan subhat atau penuh dengan keabu-abuan.

PS. Tulisan ini dibuat sebagai catatan pada penulis pribadi, adik dan keluarga khususnya, serta teman-teman remaja yang masih bingung dalam dunia pertemanan. Haha

Question: Is it important to have and update your LinkedIn profile?


The answer is yes and no.


LinkedIn logo
Logo LinkedIn

As a business and employment social media, you might consider using LinkedIn to connect with your business and professional networks. So far, LinkedIn is really helping me to get the jobs, building connections, getting good articles to develop and broaden my knowledge generally and specifically, and etc. In several case, when I want to recruit team for my social projects, I used LinkedIn to get any information on how professional they could be through their professional or volunteer experiences.

Why the answer is YES and NO, though? It's pretty simple. The answer is YES, if you want to apply any programs or jobs. Based on my experiences, there are several programs, let us say, Young Leaders for Indonesia (YLI) or Tunza Eco-Generation, that's sorting its potential candidates based on their exposures on social media (mostly from Facebook or LinkedIn). By updating your profiles in LinkedIn, it could give good exposure and messages that you're aware with it. The best part for me, LinkedIn could help me to do documentation for what I did, its achievements during the jobs or projects, and also what kind of achievements/recognition I already got. It could remind me what kind of things I have done so far and could help me to choose which one worth to write in my CV.

Well, let me tell you something. LinkedIn, at least, already linked me to more than 8 companies so far. FYI, I was applying for 58 Jobs, and got invited to these 8 companies though. What I did is simple, every morning, I will start my morning ritual, check linked in -> Clicked the articles that catches my eyes -> Read, take a note and memorize it -> Checked LinkedIn jobs for Analytics key term -> Prioritize to apply jobs using "Easy Apply" tools by LinkedIn. Voila! Can't believe I was applying for 58 "easy apply" jobs and more than 10 jobs that I used to clicked on Urban Hire, Tech Asia jobs, etc. Haft! LinkedIn was the one, who met me to Elevenia Apprentice Program, though :))

LinkedIn might connect me to several influencer which have inspired me a lot! Here it is, since graduated, I decided to expand my knowledge through Big Data, Data Analytics, Data Scientist, and also Sales and Marketing. So yeah, I follow Tom Hopkins, Ian Bremmer, Bill Gates, Jill Rowley, Andy Paul, Gary Vaynerchuk (one of my top Motivator), etc. Even you can follow the company that you used to know or dream. So, LinkedIn literally can develop you personally and professionally IF you seek for it.

So, here's my tips. No matter you guys are students, fresh-graduate, or even professional and businessman, I suggest you to have and keep updating your profiles through it. If you have any event that can give you good exposures professionally, just do not hesitate to share it. Somehow, you may inspire and change someone's life better! For me, LinkedIn can be a quick reminder to me that there's still someone who have done and achieve more through their life. This is definitely can motivate me to be the best, though!


Apprentice Test of Elevenia


Step by step guidance of Apprentice Test



Elevenia XL Planet
Logo Elevenia

Hello guys!

As you know, currently I am taking role as Data Management Apprentice for Customer Analytics Department, which will prepare me to be Data Analyst of the company. Elevenia Apprentice program is extremely good opportunity you can take. I am personally still enjoy it here because as Meteorologist, I am extremely comfort with data, number, statistic, and programming process though (For more story, check it here)

Well, tonight I will share to you about the Elevenia Apprentice Test process. I am using English because I believe you already capable with it, I guess, at least you had B1 English proficiency though. Why? Well, as you know Elevenia or PT. XL Planet is a joint venture company between XL Axiata and SK Planet. This is the reason why we called it PT. XL Planet in the first place. So, in several division, you might meet Korean people actually (i.e. SEO division, the GM is korean). This means, you should prepare your English well, especially in speaking and writing.

Well, the processes of Elevenia apprentice program were simple actually. 

First, you'll have paper test for General Management Admission Test (GMAT) in Bahasa. In GMAT, most likely similar with IQ test (verbal logical) for sure. It's hard to describe the test (also it's confidential) but if you have good logic, I bet you'll pass this test easily.

Second, at the same day, you'll have English test (for listening and reading part). Alhamdulillah, before taking the test, actually I was preparing my IELTS test (because formerly I was willing to continue my study). And I guess it's obviously easier. I didn't know how much time I spend, but, actually I still had my 20 minutes for finishing the test. Yups, on that time, I am on my mood to be ambitious, so I will do everything as soon as possible (with my best), so that I could have time to check my answer. So, make sure you can manage your time well for Elevenia Apprentice program yups.

Third, Focus Group Discussion (FGD). OMG, to be honest, I was so nervous! It was my first time to have FGD. Nervous af. But, nervous and doing nothing won't solve and calm me, right? So, I was literally studying anything about Data Management and Customer Analytics haha. Just googling it, guys :p Here's the example. I was searching for Big Data Management (Just connect it to your logic yah haha). So yeah, just be in mind, what kind of roles you're going to take haha. Anyway, because limited resources, I was searching for FGD Apprentice program. But unfortunately, I just found the XLence apprentice program. Well, I assume, "it's not so different lah yah"....... because this company might same with XL, right? But it is totally different. What I read, the topic might relate to Leadership (which is not really worried me, because of my roles on several organization). And the actual topic is ..... about Data Science and Big Data! You will be given an article, and please discuss it to your group, and present the conclusion to the watcher. FYI, we were watched by GM of Customer Analytics, So ..... Be prepared, guys! Just a quick reminder, in Elevenia Apprentice test, the FGD will be conduct in English. Anyway, don't forget to see the attitude of FGD yaps, probably it matters! You may see the materials on youtube or something.

Fourth, last but not least, the Elevenia Apprentice test would be Interview by user ..... There's no tips except Rehearse ..... Rehearse ..... and Rehearse! Make sure you know what you're doing, and what you have written on your CV. And please, relate all of your organization experiences with this roles haha. For F sake, I was rehearsing from this. TBH, I was interviewed by mas Hakim, GM of Customer Analytics, face to face. Just relax and enjoy your interview like you guys having daily conversation yah. Please make sure this job, in line with your long-term goals (Perhaps to be scientist, lecturer, or even businessman). Elevenia, probably, doesn't want to recruit the unmotivated ones. Ganbatte!

Well, all of Elevenia Apprentice test processes only take 10 days I guess, and you would get the result of your interview a.s.a.p. About the contract ..... Well, just make sure you can make it to this step ya :p But I can assure you, this program is great opportunity, and you may consider it as Management Trainee level lah haha.

Good luck guys! If you have anything to ask, just leave the comment below yah haha

Unexpected Journey of Meteorologist to Customer Analyst


A Journey of Meteorologist to be Data Management Apprentice on Customer Analytics Department


Hallo everyone !

I want to share my slight journey as Data Management Apprentice on elevenia.co.id, in which, currently I am being prepared to be Customer Analyst for sure. 


How come a Meteorologist became a Customer Analyst?


Well, I am not really sure why, but regarding my Interview with the user,  I can assure him several things, I do have programming minded, with intermediate understanding of statistic, and can deliver the insight of analysis to the people. FYI, in Meteorology, we were learning about statistic because we're scientist, right? We are talking about the Data, and digging these data and serving it to be some insightful analysis. As a student, I used to be assistant lecturer of Weather and Climate Data Analysis (WCDA) and Numerical Weather Prediction. We used Matlab and Fortran to calculating our data, and for the record, every week, we used to do presentation in front of students, lecturers, and laboratory assistants. This story can sum up my experiences regarding programming, statistic, and presentation skills. 

What makes it interesting, actually what I am doing as Data Management apprentice might be not really different with Meteorology subjects, except for the advanced tools and also the data itself. I am currently learning about SQL, a language to communicate with the database. Because all of our data is stored on Cloud, and you may consider as Big Data. Furthermore, I was learning about Web Recommender Logics, and how could they increase the conversion rate of a website, also I learnt how Amazon.com can be so success with this recommendation logic things. Last but not least, recently I was learning about Google Analytics, which is really powerful tools to getting the insight of who are your visitors are, how could they end up into your website, how they behavior is, how impactful our paid or unpaid campaigns, how many interactions the customers did to convert into transaction, and lots of things for sure. And you know what, thanks to google actually, we are eager to learn anything by ourselves. And because when I was on Meteorology student, which the subject itself sometimes lack of sources and books, I can manage and handle with that conditions. Googling might be the best tools to learn anything by myself.

Monthly Report of Elevenia
One of my task -just for learning- what kind of CA's going to do

Google Analytics in a Nutshell
One of our task as Apprentice to getting lots of insight by using Google Analytics


Actually we already had 5 tasks so far (always do presentation every week), but these might be confidential because I was using real data from the company. So I am definitely not sharing these reports haha.

Last, we were just having the meeting regarding the path of Customer Analytics department, because it's still new in Elevenia. And I am telling you that I am so excited to build my career in this path, because it's so challenging for me with the background -that in the middle of- Statistics and Programming, also, all of us will learn and growing this department together (Aamiin!)

So, for all of Meteorology students out there, especially from ITB. Just don't be afraid for what you're going to be. Because I believe, actually, you can be whatever you want to be, and somehow, you might relate all of this stuff to what you have learnt in Meteorology so far. My message for you guys, dedicate yourself, your time, and your mind, to learn anything from this program and your organization, because it's gonna help you to achieve more :) Thank you and see you on Top :)

If you have some questions, just comment it below hoho

(Edited) Data Management + Marketing Division Iftar

Sebuah Perjalanan dan Pembelajaran Spiritual



Sebuah cerita terkait perjalanan spiritual dalam membaca Al-Qur'an dan Terjemahan




Vibes pilkada telah usai. Namun rasa-rasanya, masih banyak yang tidak terima dengan hasil yang ada. Beberapa diantaranya menyalahkan isu SARA yang belakangan semakin panas. Pak Basuki atau Ahok yang lahir sebagai ras chinese atau tionghoa serta agama yang dianggap tidak merepresentasikan mayoritas Indonesia, dianggap tidak layak untuk memimpin kota Jakarta, at least, bagi banyak orang yang tidak mendukungnya. Belum lagi kasus penistaan agama yang tampaknya, bukan lagi hal yang penting untuk dibahas, karena toh ahok telah kalah, mungkin.

Well, sebagai seseorang yang selalu berpikiran terbuka terhadap isu-isu yang ada. Sewaktu berdiskusi dengan ayah perihal surat Al-Maidah ini. Tiba-tiba aku menjadi teringat salah satu jalan spiritual yang pernah aku lewati. Iya, sejak SD aku mulai berfikir mana agama yang benar, Tuhan mana yang akan aku pilih, kenapa harus ini, kenapa harus itu, semua pertanyaan dalam fikiran itu, aku coba jawab dengan nalar yang aku miliki. Silahkan katakan dan judge saya sebagai penganut cocoklogi, karena semua yang ada di dunia ini, somehow memang ada kaitannya. Dan akan lebih masuk akal dengan science dan uji coba tentunya :)
"Sebuah kibasan sayap kupu-kupu, bisa jadi men-trigger tornado di benua Amerika" - Butterfly effect theory
Oke, lanjut ke cerita awal yah. Penting untuk diketahui, bahwa orang tuaku sejak dulu men-doktrin kami untuk beribadah TANPA memberitahukan esensi dan makna di balik beribadah itu sendiri. Semua hanya dibekali kisah-kisah keajaiban jika kita beribadah kepada-Nya. Ini memberi output yang sangat tidak baik, kami selalu menganggap slow jika meninggalkan sholat. Sholat dilakukan hanya 2 kali sehari, yaitu subuh dan maghrib. Itupun karena dipaksa. Kebiasaan ini terbawalah sampai SMA.

Di SMA kelas 1, tidak begitu berpengaruh terhadap perjalananku mencari Tuhan. Sampailah di kelas 2, aku masuk kelas plus atau unggulan. Dimana teman-teman cowok saya cukup alim. Akupun memulai untuk beribadah, yah terjadi peningkatan dari 2x sehari, hingga 4x sehari. Jika ditanya alasan, aku mungkin belum bisa menjawab untuk saat itu, masih mencoba-coba untuk beribadah kepada-Nya. Sampailah di kelas 3, aku mengambil les persiapan SBMPTN, bersama teman-teman semua, aku mulai membiasakan sholat 5 waktu. It really means to me, karena aku mulai merasa kedamaian dan benefit ketika aku sholat. Bahkan, sholat menjadi salah satu jalan untuk curhat dan berharap kemudahan agar lulus PTN. You may call me "Hamba with Benefits"  and it's definitely not really pure from my heart.
"Kamu berharap bertemu dengan Tuhan, tapi kamu sendiri tidak berusaha untuk mencarinya." - Sebuah perkataan teman
Sampailah aku di ITB, salah satu universitas terbaik di Indonesia. Ternyata, orang-orang yang ada di dalamnya, juga luar biasa religious. Aku begitu saat senang saat itu, dan berharap bisa belajar banyak dari mereka. Di kampus ini, tidak peduli banyaknya tugas yang diberikan, ketika waktu sholat masuk, banyak yang berlomba-lomba untuk sholat. Selama disini, jarang aku melihat musholla yang sepi. At least di jam Dzuhur, Ashar, dan Maghrib.
"Yuk ah sholat dulu! Biar tenang dulu ngerjain tugas-tugas ini" - (Lagi-lagi) sebuah perkataan teman
Sampailah titik dimana aku mulai bertekad untuk mempelajari Islam lebih lanjut. Aku lupa apa yang memotivasi aku saat itu, tapi yang jelas aku merasa bersemangat untuk mempelajari Al-Quran. Karena selama ini, aku membaca dan membaca bahasa arab saja, tanpa mengerti apasih arti dari tiap bacaan itu. Semua berjalan dengan lancar, sampai suatu ketika, langkahku terhenti. Ada yang ganjal! Aku menemukan suatu terjemahan, tepatnya surat Al-Maidah ayat 51. Dalam Al-Quran tersebut, diartikan bahwa
"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan orang Yahudi dan Nasrani sebagai teman setia(mu); Mereka satu sama lain saling melindungi. Siapa diantara kamu yang menjadikan mereka teman setia, maka sesungguhnya dia termasuk ke dalam golongan mereka ....." (Al-Maidah: 51)
Apa yang aku baca, sangat bertentangan jauh terhadap apa yang aku alami dan yakini. Selama ini, hampir semua sahabatku adalah orang-orang non-muslim. Mereka baik, mereka selalu mengingatkan aku untuk sholat, tapi berdasarkan Al-Quran yang aku baca, apakah aku harus menjauhi mereka? I don't want to hate and judge anyone over their religion. No, it's definitely wrong!

Sejak itu, aku terus kepikiran terhadap ayat tersebut. Bahkan aku menghentikan program "1 Hari 1 Halaman" ku. Lebih tepatnya, aku memutuskan untuk tidak membaca Al-Quran lagi pada saat itu. Sampailah suatu ketika, di dalam mata kuliah Agama dan Etika. Pada saat presentasi kelompok, aku memberanikan diri bertanya kepada kelompok tersebut, Jujur, aku lupa mereka presentasi tentang apa, tapi harusnya berkaitan dengan ini. Mereka tidak berani menjawab. Karena yang aku tanyakan terkait tafsir.
"Berdasarkan surat Al-Maidah ayat 51, yang berbunyi (seperti tulisan diatas), apakah aku harus memutuskan tali pertemanan ataupun persahabatan yang telah aku jalin? Jujur, hampir seluruh sahabat dekatku adalah orang-orang non-muslim (orang kristen), mereka baik kok, dan bahkan mengingatkan aku untuk sholat." - Sebuah pertanyaan
Karena yang aku tanya berkaitan dengan tafsir. Maka dosen agamaku, Ibu Qori'ah, menjelaskan bahwa ayat tersebut, ternyata turun sewaktu nabi Muhammad SAW akan melakukan suatu perjanjian dengan orang-orang Yahudi dan Nasrani (saya lupa nama perjanjiannya) di Mekkah. Namun, ternyata orang-orang Yahudi tersebut telah berencana untuk berkhianat terhadap perjanjian tersebut. Nah, sebelum perjanjian itu ditanda-tangani, turunlah ayat ini. Jadi, konteksnya adalah, surat ini turun sebagai suatu sejarah. Aku diminta silahkan saja tetap berteman dengan sahabat-sahabatku, asal tidak melampaui batas. Nah, melampaui batas yang bagaimana? Menurut ustadz Quraish Shihab, sampai melebur ke kepribadian, akhlak, ataupun semacamnya. Sampailah kita menyamakan dia dengan diri kita dalam konteks aqidah. (Selengkapnya lihat disini)

Alhamdulillah, setelah mendengar jawaban ini, akupun kembali ke jalan yang lurus, dan aku mulai sadar, bahwa dalam menjawab pertanyaan sulit, ada baiknya minta jawaban langsung dari Ahlinya (bisa jadi ustadz, dosen ybs, ataupun para ulama). Karena mereka sudah lama berkecimpung untuk mempelajari hal tersebut hehe. Jangan disimpan sendiri, dengan meyakini jawaban yang kita pegang saja. Bisa-bisa termakan dengan asumsi yang ada, might refer to atheist, but it's your choice anyway.

Menariknya, surat yang sempat membuat aku galau ini, selalu muncul di tiap Pemilu gaes. Awliya yang tertulis dalam Al-Quran diartikan sebagai pemimpin, padahal dari apa yang aku baca lebih diartikan ke orang kepercayaan, wali (berdasarkan pak Quraish Shihab), ataupun Teman setia. This issue always bring this up, kind of, whatever it takes, a Leader should  come from Muslim no matter what. Padahal, it's not that simple right? Di negara Demokrasi ini, setiap WNI yang berkelakuan baik, bisa saja mencalonkan diri menjadi pemimpin. Tapi, masa iya sih, seorang kandidat, akan langsung gugur atau unofficially eliminated karena agama yang dianutnya? Is it that simple to choose a leader? Kasusnya persis seperti pencalonan Ahok dan Anies sebagai Gubernur. Shall we judge Ahok based on his religion? Not his track records, programs, and achievements?*

*please keep in mind, it's not part of black campaign but examples.

Entahlah, tapi yang jelas dalam koridor perjalanan spiritual-ku, setiap apa yang aku lakukan, akan diminta pertanggungjawabannya. Termasuk memilih pemimpin, kan? Bayangkan jika pemimpin yang kita pilih, ternyata korupsi dan malah membawa kerugian bagi banyak orang. Hayoloh, siapa yang mau bertanggungjawab? Dan apa yang akan kalian katakan kepada para Malaikat nanti? So, sejujurnya, agama yang dianut oleh calon pemimpin tersebut tidaklah begitu penting, menurutku. Masih banyak hal yang penting untuk dipertimbangkan. Karena ini bukan lagi masalah aku dengan pemimpinku, tapi kemaslahatan umat.

Jadi, keep open minded gaes! Please, do not spread the hate and racism. A leader has been chosen, and this would be our responsible to keep our new leader on his tracks. And hopefully, you guys, please consider anything smartly and wisely in the future.

Muslim Journey through his faith
My Faith Journey as a Moeslim

The Hypocrisy of Indonesian Voters every Election Time!


The Hypocrisy of Indonesian Voters over Religion


Halo!

Hohohoho, there might be lots of people that would be triggered by this post.

Well actually, I already had several debates regarding choosing a "non-muslim" leader, at least, with my family. Some of them said to me about Al-Maidah 51, which is about choosing Muslim leader rather than the non-muslim ones. But, me myself and I keep wondering "Is it that simple?". I mean, can't we consider another things like his/her "Capabilities", Track records, the idea of leading the communities, future plans for the cities, and etc .....

Myself keep asking "Whenever a non-muslim person want to be a leader, Does his "religion" would eliminate him directly? Can't we just sit there, listen for their visions, and compare it with another candidates? Because it's not only about Islam, it's about a nation, or organization, which can lead us forward, or backward. And for sure, even though Muslims are the m ajority in this country, can't we consider the other religions? Do they have their voices heard? Do their voices matters? Can't we listen to them and considering what this nation needs?"

And finally ..... once again, I asked "Is my religion, Islam, really this egocentric? I mean, we already declare ourselves to be 'Rahmatan lil Alamin', right?". Rahmatan lil Alamin is a very serious word. It means, Islam is a mercy to ALL mankind! No matter what your race or religion is ..... Isn't it? So, where's these words whenever comes the election years (?) It looks like we tend to be divided by these issues though.

Last but not least, if you're choosing a leader, just by their religion blindly ..... I would like to ask you a question "What makes you keep working with them? I mean, they're your leader for sure, right?". If you think it's okay, well, I must consider you as "Hypocrite" though. Don't get me wrong, please stop using double standard over anything hohohoho.

Well, if you had anything to say, just comment below, but if you want to chat me directly, you may approach me by Line: rafitanjonggg or email: rafiharirinst@gmail.com

Thanks!