Rasa Syukur


Sore itu aku termenung
Balutan kopi dan kafein yang telah mengusir kantukku
Membuatku tak ingin lagi tertidur ataupun sekedar memejamkan mata

Perjalananku masih panjang
Masih beberapa jam lagi
"Apa lagi yang bisa kulakukan?"
Akupun saat ini tak ingin membaca jendela dunia itu
"Sedang malas", pungkasku

Aku masih termenung,
Mendongakkan wajahku ke Jendela
"Seindah ini yah panorama yang diberikan Tuhan"
Rasa bosan berganti senyuman
Hinggalah rasa syukur yang tertinggal
"Setidaknya aku masih bisa hidup, bernafas, dan bersyukur"
O Tuhan yang Agung

Bahagianya aku kala itu

Ditulis dalam perjalanan Bandung-Jakarta,
28 October 2018, 16:05
Saksi akan ke-esa-an dan ke-agungan Tuhan,
Sang Pencipta Alam

Foto Oleh: Keretaapikita, via phinemo.com

Review Book: Purpose


Hai!

So last week, I attend mba Alamanda's meet-up that will tell about what's in her book.

I know and adore her so much after she resigned from her Jobs (this was a booming tho), and after that, I was following her career & became so much fans after she created Binar Academy, and how it helped the socieities back then.

Everytime she posted something, I will definitely read about it because I am so curious with her. She is the one who always inspired me to do something more with the right purpose (not only pursuing for money and stuff). On several event, such as Proud project event, I saw her but once again, I felt not worthy enough.

So that's the beginning.



I follow her instagram, and felt inspired. Because in here, we are talking about an independent women, whos become engineer, inspiring, and always bring happiness around her. Do not forget about her artsy feed, this is somehow a perfect combination of a human, right?

Ok. not trying being weird, because I dont.

The first time I saw her snapgram about this event, I am directly signing up for this! Of course because she launched a book, and I am that bookworm-ish that so enjoy reading about someone's achievement and biography, and YES it is HER auto-biography, which is, she is the one who wrote it!

The next thing I saw, the event is about PURPOSE. You know, something that I have stuggling with, because currently I don't know why I live. I didn't see clear purpose even tho I already read about bunch of books that talked about this. Purpose, goals, visions, different name, same definition, but somehow nothing really moved me.

"Ok, maybe this is the answer!" I said.

Yet, the same question has been asked by my brother. So ...... I invite him (not really asked him tho, but signed him up for this, sort of force him to attend this, Lol). Yeah, he is confused about his life, not really have any passion in his life. So .... maybe this is also become his answer, right? He might hate listened to me all the time, maybe he needs a new figure?

Registered!

On the D-day. I came. See her directly, tell her stories, what's in it, AND of course I bought it! I bought the books, and I am sold to read it soon!

Not gonna spoiler things up.

I am just so surprised that it felt so good. This book is really really good. I am not lying. Everything is straight forward, there would be no long explanation, but somehow I can relate that. In this book, you will get anything about her family, how she lived, how she became the entrepreneur for her first enterprise. I often judged her being like that because of her previledge, but no, it's also about her being struggling and give the best effort to achieve it. Also ..... Next thing you will get story about Nadiem Makarim, which is also my favorite innovators, and got it from another POV, which is the closest one with him.

Ok .... I am so moved and also jealous, even asking myself what have I done so far in my life? What have I done on campus? Why don't I think like this? Start my own company, meet with outstanding people, get the mentor, and stuff. Aside from it, I am currently asking my self the Why instead of What (I want to be).

Just like what she said on the event, more or less.

"I do want to be Minister of Education, that's why I founded Binar Academy, because I care about the Human development, and education system itself. But that's just the What. Let us stop for a minute, think about the Why we want to be that, and enjoy the process?! And that is the why. Even if I didn't become Minister of Education, I already did the why, right?!"

Yas, Purpose is a book about the process. It has inspired me to embrace and enjoy all of the process that happened in my life. Personally, I recommend you guys to read it! For me .... It's 10/10!



PS. This a new record for me, to finished the books like .... only less than 3 hours. I want to stop, but no, my body wanted me to read and finished it soon, and takes whatever lesson learned on that books!

Overthinking dan perlambatan pergerakan


Hai!

Sebagai manusia, kalian pasti pernah berada di titik, kalian terlalu banyak berfikir sebelum melakukan sesuatu. Entah itu dalam hal pengambilan keputusan, presentasi, berkomunikasi, hingga bersosialisasi.

"Nanti kalau aku ngelakukan ini, hasilnya gimana ya, bisa jelek dong!"

"Nanti kalau aku ngomong ini, dia sakit hati ga ya"

"Duh, anjir, chat gue salah ga ya, kok dia ga balas-balas? Apa dia marah?"

And the list can go on! Banyak banget si manusia pemikir ini fikirkan. Mungkin karena aku masuk ke bagian Melankolis atau si pemikir kali ya .... Hehe.

----------------

www.203challenges.com

Emang ada yang salah dari berfikir?

Tentu saja tidak! Berfikir itu salah satu anugerah dari Tuhan loh, jadinya ga ada masalah sebenarnya. Tapi, emang rumus ini selalu benar, sesuatu yang berlebihan belum tentu ngasih yang terbaik. Memikirkan cara presentasi yang efektif, itu jelas baik. Namun, berfikir sampai apakah yang kamu siapkan sudah benar, atau melebihi ekspektasi orang, atau bagaimana tanggapan mereka jelas ngga worth your time! Kenapa? Itu sesuatu hal yang diluar kontrol kamu, ngapain fokus kesana? Yang benar, coba perhatikan Business Questionnya, udah bisa menjawab atau belum, dan sudah cukupkah analisis yang diperlukan, itu yang benar.

Berfikir dalam konteks belajar misalnya. "Duh, apaan nih dosen, kagak ada jelas-jelasnya nerangin materi." atau .... "Duh, ini buku kagak lengkap banget, gimana dong gue harus belajar? Materinya beda!" atau .... "Presentasi nanti gue akan dibantai ga ya? Dude, deg-deg-an banget, bikin ga fokus!". Hal ini tentu saja tidak pernah benar. Lagi-lagi hal-hal diatas diluar kuasa kamu, jadi? Yah mau gamau effort belajarnya dinaikin lah! Kalau 1 sumber buku ga mencukupi, cari yang lain, google kan banyak, atau .... Kalau lo gamau dibantai, yah coba pastikan lagi dek itu materi udah sesuai sama arahan dosen/ asistennya belum? Kalau udah yah tinggal disiapin materi detail yang ngga lo presentasiin tapi buat jaga-jaga lo siapin, atau paling ngga lo bisa siapin materi yang sangat efektif lah. Inget, Power Point, bukan Power Paragraph :p

Konteks menulis. Berfikir materi apa yang akan lo ceritakan dalam artikel lo, itu jelas penting. At least, do your research well lah. Apa yang lo akan ceritakan harus unik, ga plagiat, atau disertai dengan sumber-sumber terpercaya yang mumpuni. This is writer done well. Yang salah itu ..... tulisan yang lo udah buat, ga jadi lo publish karena lo malu/ takut/ khawatir tulisan lo akan jelek, diejekin orang, ga sesuai ekspektasi, kurang sempurna, belum comprehensive, dan sebagainya. Aku punya satu teman yang ga jadi mencoba nge-blog hanya karena takut tulisannya jelek, not good enough, etc. Ini yang gaboleh. You need to embrace all of the process, yang tadinya not good enough bisa jadi the best karena dalam prosesnya dia akan belajar "Oh, yang ini benar, yang itu ga-benar. Yang ini bagus, yang itu ga-bagus. Yang ini menarik, yang itu nggak."

Terakhir, gue mau berbagi pengalaman kerja.

Ada 1 waktu, dimana gue sedang provide dahsboard & Reporting terkait efektifitas campaign bisnis yang sedang dijalankan project-nya. Setelah beberapa hari ga-kelar-kelar karena ini the least priority yang dapat selain request adhoc analytics guna membantu orang bisnis dalam mengambil keputusan. Gue ngelakuin sekitar beberapa jam gitu ya karena building logicnya udah dicicil sejak beberapa hari lalu, jadi tinggal lanjutin aja.

Semuanya udah kelar, dari monitoring set-up hingga hasil yang disesuaikan dengan metric & KPI untuk tiap proses.

Masalahnya, bos gue lagi cuti, dan gue harus nge-deliverin sesuatu dong di hari itu. Gw discuss sama temen gue, katanya head gue lagi sibuk (emang ini lagi end of Q3), jadi doi focus untuk budgeting yang super complex. Sometime, He can be genuine and harsh lah kalo udah sibuk. Baik. Gue disaranin pake e-mail aja sama temen gue wkwk. After several words, gue somehow stuck dan males buat jelasin tuh chart 1 1 di dashboard. Belum lagi ...... mungkin bisa ga dibaca karena head gue ini focus banget orangnya.

Tara, gue langsung aja dong datangin ke mejanya. Bodo amat kalo ditolak, at least gue coba approach ...... Diterima! Kita buat fruitful discussion, gue dapat ide secara bisnis processnya dari dia, ya emang dia ngucapinnya sembari mumbling sih, tapi make sense dan gue take notes di otak gue. Dia pun oke dengan format yang udah gw buat, dengan sedikit revisi dan beberapa tambahan slicer.

Well received with thanks. Hal yang gue pikirin aneh-aneh ga terjadi ...... Dan gue akhirnya nge-deliver target gue hari itu. Hoho. Just do it already, don't be overthinking, and face it like a man!

Hubungan Manusia


This photo somehow astonished my feeling, at least as a human (http://www.thestyleexaminer.com)
Malam ini aku mau berbagi satu cerita.

Entah mulai sejak kapan, namun aku mulai khawatir tentang status lajangku. Ntahlah. Umurku masih 23, namun kurasa aku sudah masuk ke quarter life crisis. Krisis yang biasanya dirasakan anak-anak muda umur 25, yang mulai panik memikirkan karir yang tak kunjung naik, jodoh yang tak kunjung ketemu, tabungan yang tak begitu banyak, dan masih banyak lagi.

Krisis ini biasanya membuat penderitanya galau, panik, dan ingin mendapatkan semuanya dalam 1 waktu.

Tidak mungkin. Namun itulah yang terjadi. Mungkin aku tidak begitu panik, tapi gejalanya mulai tampak. Bisa jadi karena jenuh, bisa jadi karena aku kurang sibuk. Setidaknya aku belum menemukan banyak abang-abang mentor bayanganku yang begitu. Mereka tak pernah terlihat galau, namun prestasi tidak perlu ditanya lagi. 5 tahun diatasku namun sudah Forbes 30 under 30. 5 tahun diatasku namun sudah memiliki 1000 karyawan. Ingin? Jelas. Namun aku tidak begitu tau mau bikin apa. Biarlah buku-buku yang aku baca mengantarkanku. Atau malah keadaan (?) Kita lihat saja nanti.

Masih terkait status. Apalah yang ingin dikejar? Menikah masih belum mau, karena ga yakin mau memberi makan apa. Berpacaran? Hmmmm, menarik, namun aku siap tidak untuk berkomitmen? Waktu me time berpotensi berkurang, tapi tak apalah untuk dicoba.

Karena belum menemukan yang menarik di dunia nyata. Aku memutuskan untuk menggunakan satu aplikasi bernama Tinder. Aku set profile ku dengan benar. Aku ga begitu memajang foto tampan, karena emang ngga. Paling tidak bisa cukup menggambarkan diriku lah. Terlihat gemuk, hidung pesek, namun tidak begitu jelek, puji diriku sendiri.

Haha, swipe by swipe. Berasa milih katalog cewe. Sejujurnya aku ga begitu suka idenya. Karena aku akan menjadi judgmental disana. Melihat cewe hanya berdasarkan tampang dan body, walaupun berbincang pun belum terjadi.

Aku ga begitu pemilih, tapi ya ga asal swipe juga. Waktu demi waktu, match bermunculan. Beberapa aku coba ajak cerita. Ada yang merespons baik, banyak yang merespon seadanya, minta di-approach banget sih, pungkasku. Ada juga yang ga merespons sama sekali (yang ini mah positif thinking aja. Doi coba-coba terus uninstall). Haha, aku menghibur diriku.

Bagi mereka yang merespon seadanya, aku coba pancing. Kunaikkan sedikit tempo dan keseriusannya. Eh, aku di-unmatch. Haha. Baiq, mungkin dia lelah.

Sudah 5-8 orang ku coba chat, tidak begitu menarik. Bukan dari penampilannya. Kalian tahu aku feminist kan, aku memandang semua sama. Lantas, aku hentikan sementara. Selain kuota swipe abis, aku juga perlu istirahat, pungkasku.

Ada 1 waktu, aku harus ke Semarang. Buat mengantar sepupuku sekolah. 800km ain't no joke, tho. Tired af. Bored, semua bercampur jadi satu. Selain perdebatan kecil dengan sepupu konservatif, baik itu dari cara mereka berbicara, atau memandang rendah wanita, sampai juga ke perdebatan Politik. Haha, semua kami jalani biar seru.

Ada 1 waktu aku kembali membuka aplikasi ini. Di semarang. Jadi ya posisi menyesuaikan lah ya. Match! Aku biarkan dulu, karena aku juga lelah dan ga tau mau chat apa. Aku diamkan sampai aku kembali ke Jakarta. Aku cek lagi. Ada yang terlihat menarik. Aku chat, aku ajak bercerita. Ingat ya, saat ini belum pernah nemu cewe yang chat duluan di Tinder. Walaupun aku tak akan men-judge mereka, atau mungkin udah kodratnya, atau mungkin ya simply mereka ga mau curi start. Malu (?)

Baik. aku cerita. Aku tanyakan masih kuliah atau tidak, dimana, jurusan apa. Hobby, Interest, semua aku gali. Aku disini mau coba skill deep convo ku. Paling tidak bisa menggali teman-teman secara mendalam. Sembari mencari kesamaan. Atau malah ketidaksamaan. Keduanya menarik untuk dijadikan bahan. Memulai percakapan itu sulit loh! Aku harus akui itu. Tapi ketika kamu sudah nemu 1 celah dan titik. Dang! It will be fruitful af.

Ada 1 momen ketika lawan bicara mulai terbuka. This is the best part. Akhirnya dia mulai terbuka untuk masuk ke flow pembicaraan juga! Disini lo akan benar-benar memulai mengenal pribadi secara lebih baik dan nyata. Udah ga ada lagi celah judgmental berdasarkan raut wajah di profile. Tapi semua berjalan karena kalian punya intent mengenal satu sama lain.

You know what. Since Im looking for a friend, here. Waktu udah hanya perkara angka. Aku ingat sekali kami memulai pembicaraan di sekitar jam 11an. Dan berakhir di jam setengah 2. Ini hanya perkara mata yang emang udah lelah juga. Tapi aku baru sadar banget, it's not about you chat with stranger. Ini tentang hubungan 2 manusia, yang punya kesamaan, juga perbedaan, dan keduanya terbuka dan terus berbagi. Sangat tidak terasa. Tapi aku bahagia. Bahagia karena akhirnya aku punya teman baru. Aku punya teman selain Antari 2012, ataupun adik sebagai teman sekamar, ataupun teman media social yang semu dan jarang banget jumpa! Hahahahaha. It's been a long time since I have really deep convo, terakhir banget ngobrol sama 2 sahabat aku di kost-an, hingga jam 3-an. And that's it! Berbicara hubungan manusia itu menyenangkan, kan?

Flashback Minggu Lalu - Kontemplasi




Belakangan ini, banyak sekali yang aku fikirkan. Dari hal kebermanfaatan, iya, aku ngerasa kurang bermanfaat banget. Hidup hanya untuk diri sendiri, sedikit banget bisa berbagi dengan orang lain. Hingga masalah galau mau berkarir atau mungkin berbisnis. Ada hal yang ingin aku coba, dengan bekal 2 tahun bekerja. Setidaknya aku sudah mengerti basic melayani customer secara professional. Karena ujung-ujungnya, memang mereka revenue generator kita. Ada lagi masalah orang tua. Sang ayah agaknya sedang gundah-gulana, ada lagi satu penyakit yang belum terindikasi apa.

Ia semakin tua, umurnya sudah 64 tahun. 1 tahun diatas Rasulullah SAW. Namun ia masih bekerja! Bukan, bukan lagi hanya mengurusi 2 adikku yang masih sekolah, melainkan mengurusi juga anak-anaknya yang tidak terlihat untuk berubah. Aku pinta dia untuk tak mengurusi mereka, dia bilang kalau ini yang dirasakan orang tua. Ah! Setidak mengerti itu kah aku? Disini kesabaranku diuji, aku beri waktu 3 bulan ayahku, biarlah aku mencoba mengelola toko itu, pungkasku.

Ada lagi masalah! Aku bertengkar dengan Bunda ku. Perkara pilkada. Aku berasa muak soalnya, menyebar hoax sana sini, tanpa mengasih bukti. Aku tanya kenapa, disangka aku melawan. Masih belum cukup umur katanya. Lantas apa gunanya aku sekolah, kalau aku tidak berfikir kritis. Belum lagi bicara data. Dengan segala judge yang ada, jika tidak terdapat angka dan bukti dibelakangnya. Mana bisa aku terima. Astaghfirullah, se-level Bundaku saja yang S1 bisa termakan berita Hoax, apalagi dibawah sana?

Aku berfikir. Agaknya gelar sarjana tidak begitu menentukan apakah seseorang punya daya kritis atau tidak. Paling tidak, untuk mengecek kebenaran deh. Bisa jadi karena malas literasi, judul berita sudah bisa dihakimi, yasudah tarik kesimpulan (?) Kan tidak begitu caranya, pungkasku. Apapun itu, sebelum share yah dibaca, kalau dirasa ga cocok, stop sampai disitu. Kecuali kamu menganut paham politik berkepentingan, apapun akan dilakukan untuk menang!

Terakhir.  Aku terdiam. Hatiku sakit, air mataku tetiba keluar. #RIPHaringga pungkasnya. Aku ngga tau harus berkomentar apa. Yang kulihat adalah 1 manusia yang dikeroyok massa. Sampai-sampai meregang nyawa. Innalillahi! Kok tega?! Sesama manusia, satu nusa, satu bangsa, dan berwarna darah sama. Bagaimana mereka sanggup melukainya? Seumur-umur aku hidup, menggoreskan dan melukai seseorang jarang terpikirkan. Tidak sanggup. Karena aku selalu meletakkan diriku diatas sepatu orang. Setidaknya berempati, dan berfikir Bagaimana aku diposisi saat itu, Astaghfirullah, tidak ada nyawa semurah liga sepak bola. #RIPHaringga #JakmaniaBerduka #RIPHumanity. Innalillahi wa Inna ilaihi raji'un.

Pencari Tanda, Sampai Lupa


Benarkan Tuhan itu ada?
Aku bertanya.
Bisakah aku merasakannya?
Aku bertanya.
Bagaimana caraku bicara dengannya?
Aku bertanya.

Logika ku sulit mencapai itu.
Terkesan tak ada bukti
Tak ada jawaban
Lantas bagaimana aku menerima-Nya?

Aku berfikir ulang.
Aku melihat sekelilingku.
Lingkunganku semrawut, pungkasku.
Lantas?
Aku pun berfikir lagi.
Se semrawut apa?
24 jam waktuku tetap sama setiap harinya.
Matahari menyengat, namun masih bisa ku toleransi.
Bumi berputar di garis edarnya.
Sama dengan 8 planet lainnya.
Bahkan matahari itu sendiri bergerak mengitari galaksi.

Itu tidak semrawut.
Itu sudah diatur.
Sedemikian rupa, sampai kau tidak menyadari.
Mungkin Dia benar!
Dia sedekat itu, lebih dekat dari urat leherku.
Aku yang dibutakan logika.
Sehingga tidak melihat tanda-tandanya.

O Tuhan, maafkan hamba!


Minggu, 16 Sept 2018

Sedikit pikiran Generalist


Unrelated Image

Salah satu kekurangan dari Generalist itu ..... banyak banget yang mau dipelajari :") Dari pekerjaan pinginnya bisa ngerti berbagai hal, kalo bisa dari sisi technical oke dan business acumen apalagi. Then, selesai ngantor, pingin belajar hal lain. Dari desain grafis, editing video, komunikasi, bisnis, ekonomi, menyelesaikan target baca buku, menulis, menjadi vlogger, dan masih banyak lagi.

The perks, banyak ketertarikan bisa menyibukkan lo dari hal-hal yang kurang berguna. Instead of swipping-up your social media's home, lo bisa mulai ngerjain interest lo yang lain. However, ada kekurangan juga. Lo jadi ga fokus banget. Iya, kalo lo ga prioritasin, yang ada malah skill lo biasa aja, ga ada yg melampaui bagus. Generalist boleh, tapi beberapa skill harus cukup dalam dijalaninnya.

How to?

List. Prioritize. Do what the most important and you're really hope can do the most. Inget 20:80 rules. 20% skills but somehow can manage 80% of the result. Ini mangkanya mengerjakan hal-hal yang paling penting perlu diselesaikan secepatnya. Lakukan ketika otak masih segar (meaning di pagi hari), barulah kalau sudah selesai bisa move on ke hal lain. Rules ini bisa lo aplikasikan ke banyak hal, salah satunya belajar. Misalnya gini, kalo ujian, kerjakan yang termudah dahulu. Karena semakin mudah tentunya semakin besar soal tersebut benar, kan. Instead of ngerjain soal tersulit dan waktu lo akhirnya habis (yang mudah-mudah malah ga kelar), ya mending lo ngerjain termudah dulu. Karena konteksnya lo mau dapat nilai tertinggi.

Kalau kerjaan? Prioritize hal yang paling penting. Hal-hal yang mesti banget ada dalam waktu cepat, kalo ngga acara gabisa jalan, haruslah diprioritasin lebih dulu. Jika keduanya sama penting, bisa liat mana yang perlu secepatnya buat atur strategi.

Contoh, lo diminta ngerjain Monthly Business Deck dan Campaign evaluation. Semua diawal bulan. Dan semua penting. Yang pertama untuk update result di bulan lalu, yang kedua penting untuk nentuin campaign approach yang udah dilakuin works atau ga.

Mana yang akan lo pilih? Am gonna prioritize the second one. Karena sifatnya urgent, dan emang perlu banget di awal bulan. Sehingga semakin cepat kelar, semakin cepat strategi campaign di adjust untuk bulan ini. Nah, yang pertama bukan berarti ga penting loh. Yang pertama bisa dipake untuk buat strategi dengan jangka yang lebih panjang, namun jelas, perlu rencana yang lebih matang dan comprehensive serta data yang mendukung. Both important, but which one is the urgent one?

Sip.

Sekian curhatan mendadak gue sebagai Generalist.

Selamat malam :)